KETIK, MALANG – Di tengah beragamnya masyarakat di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Umar Faruq hadir dengan jalan dakwah yang berbeda. Melalui Pesantren Dharma Nawa yang ia dirikan, pria yang karib disapa Bang Oemar ini menghadirkan ruang belajar terbuka, yang bisa diterima berbagai kalangan.
Pesantren Dharma Nawa, yang berdiri sejak 2013 itu dirancang dengan pendekatan yang menyesuaikan beragamnya kondisi sosial masyarakat sekitar, sehingga lebih mudah diterima oleh berbagai latar belakang. Nama Dharma Nawa dipilih dengan nuansa yang lebih netral, sekaligus merupakan singkatan dari Darur Ruhama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Pendekatan tersebut tidak lepas dari cara pandang Bang Oemar dalam melihat perbedaan di masyarakat. Baginya, perbedaan bukanlah penghalang dalam berdakwah.
“Perbedaan agama dan kepercayaan itu bukan ancaman, tapi tantangan. Bagaimana kita beradaptasi dengan masyarakat,” katanya.
Sejalan dengan pandangan tersebut, ia tidak langsung menekankan ibadah dalam berdakwah. Bang Oemar memilih membangun kedekatan lebih dulu melalui sikap dan perilaku.
Di pesantren, Bang Oemar fokus mendidik santri melalui akhlak yang baik dan keteladanan, serta mengajarkan ilmu agama yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga aktif menghadiri undangan dari berbagai kalangan masyarakat, memperluas dampak positif dakwahnya sekaligus membangun hubungan yang harmonis.
Pendekatan itu diterapkan dalam sistem Pesantren Dharma Nawa yang mengusung konsep terbuka, tanpa batas kaku dengan masyarakat sekitar. Menurutnya, model ini membuat perkembangan santri tidak selalu cepat, tetapi dampaknya dapat dirasakan lebih luas.
“Kalau secara kecepatan memang lambat, tapi secara dampak kita banyak ke masyarakat,” ujarnya.
Dalam perjalanannya, Bang Oemar tidak lepas dari peran para gurunya, yakni Kiai Muiz dari Bondowoso dan Abina KH Muhammad Ihya Ulumiddin, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain, Pujon, Malang, yang membentuk cara pandangnya dalam berdakwah dan mengajar.
Pengalaman mendampingi masyarakat dari berbagai latar belakang menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Baginya, perubahan dari orang-orang yang sebelumnya dianggap bermasalah menjadi hal yang paling berharga.
Selain di lingkungan pesantren, Bang Oemar juga mengajar di Pondok Pesantren At-Taubah yang berada di lapas, serta aktif menjadi relawan di pelosok Jambi, terutama di wilayah Suku Anak Dalam, dengan membimbing masyarakat melalui pendekatan akhlak dan keteladanan.
Dari berbagai pengalaman tersebut, Bang Oemar semakin yakin bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah jika diberikan ruang dan pendampingan yang tepat.
Melalui pesantren yang ia bangun, ia berharap para santri dan binaannya tidak hanya memahami agama, tetapi juga mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Harapan saya, mereka bisa jadi orang yang lebih bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya. (*)
