KETIK, MALANG – Nuansa kolonial yang kental langsung terasa saat memasuki kawasan Jalan Cerme 16, Klojen, Kota Malang. Di lokasi inilah The Shalimar Boutique Hotel menghadirkan perpaduan sejarah panjang dan kemewahan modern dalam satu kawasan penginapan premium di tengah kota.
Bangunan ini memiliki perjalanan historis yang cukup panjang. Pada masa kolonial Belanda, gedung tersebut difungsikan sebagai stasiun pemancar. Kemudian pada tahun 1964, bangunan ini beralih menjadi kantor RRI Malang.
Perubahan nama dan fungsi terus terjadi, mulai dari Hotel Graha Cakra pada 1993, sempat dikenal sebagai Hotel Malang Inn pada 1994, kembali menjadi Graha Cakra pada 1995, hingga akhirnya pada 2011 sukses menyandang status hotel bintang lima.
Puncaknya, pada 10 Desember 2015, properti ini resmi di-rebranding menjadi The Shalimar Boutique Hotel.
Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki, yang juga perwakilan manajemen hotel, menjelaskan bahwa The Shalimar memiliki beragam tipe kamar, seperti Executive, Premium, Royal Suite, hingga Presidential Suite.
“Harga kamar mulai dari Rp1,8 juta per malam, dan yang paling tinggi bisa mencapai Rp10 juta,” ujarnya.
Tak hanya menawarkan kamar mewah, hotel ini juga memiliki dua restoran, yakni La Regina dan Saigonsan yang konsepnya unik karena tersembunyi di balik lemari.
Fasilitas lainnya meliputi salon, butik, spa, kolam renang, hingga pusat oleh-oleh yang menunjang kenyamanan tamu selama menginap.
Dari sisi pasar, Agoes menyebut mayoritas tamu merupakan wisatawan asing. Tingkat hunian dinilai relatif stabil dan tidak sepenuhnya bergantung pada musim liburan domestik.
“Kalau musiman biasanya tamu asing datang saat di negara mereka musim salju atau musim panas. Kebanyakan yang menginap bule satu keluarga,” jelasnya.
Strategi diskon, menurutnya, justru tidak terlalu efektif untuk segmen hotel butik premium. Manajemen lebih fokus menjaga kualitas layanan dan pengalaman eksklusif agar tamu merasa puas dan ingin kembali.
Dalam menjaga mutu pelayanan, hotel menerapkan standar operasional sesuai klasifikasi bintang lima. Setiap staf dibekali tanggung jawab profesional untuk memastikan kenyamanan tamu. Meski begitu, pihak manajemen mengakui tidak semua ulasan selalu positif.
“Terkadang ada yang puas, ada juga yang tidak. Misalnya ada yang mengeluhkan nyamuk atau air kurang bersih. Kami langsung mendatangi dan mencari tahu penyebabnya, lalu menjelaskan kepada tamu,” ungkapnya.
Komunikasi terbuka menjadi kunci, termasuk saat hotel menggelar acara tertentu seperti iftar dan terdapat tamu nonmuslim yang menginap.
Keunggulan utama hotel ini terletak pada arsitektur kolonial klasik yang terawat, menghadirkan suasana nostalgia, romantis, dan tenang. Interiornya dirancang elegan dengan banyak sudut yang Instagramable. Lokasinya pun strategis di pusat Kota Malang, dekat sejumlah destinasi populer seperti Taman Cerme dan Museum Brawijaya.
Kamar-kamar yang luas, bersih, dan harum dilengkapi fasilitas modern seperti minibar dan balkon. Beberapa kamar bahkan menyediakan camilan khas Malang sebagai pelengkap pengalaman menginap.
Dengan perpaduan nilai sejarah, kemewahan, serta segmentasi pasar yang jelas, The Shalimar Boutique Hotel terus mempertahankan citranya sebagai hotel butik premium yang diminati wisatawan mancanegara saat berkunjung ke Kota Malang. (*)
