KETIK, MALANG – Pengembangan kawasan Kayutangan Heritage telah sampai pada upaya mengatasi kemacetan di destinasi yang kini banyak diincar wisatawan. Proyek ini menjadi bukti sejarah keberlanjutan pembangunan lintas kepemimpinan, mulai dari era Wali Kota Sutiaji, Pj Wali Kota Iwan Kurniawan, hingga Wali Kota Wahyu Hidayat.
Penataan Kayutangan Heritage membuktikan pembangunan harus tetap terintegrasi meski kepemimpinan berganti.
Kayutangan Heritage di Masa Kepemimpinan Sutiaji
Pengembangan kawasan Kayutangan Heritage telah dimulai sejak Sutiaji dan Sofyan Edi Jarwoko menjabat sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang periode 2018-2023.
Pada tahun 2019, Sutiaji meresmikan Kayutangan menjadi Ibu Kota Heritage Malang Raya, dengan menimbang catatan sejarah dan banyaknya bangunan kuno sejak zaman kolonial Belanda.
Penataan dimulai dengan melebarkan area pedestrian yang dibagi dalam tiga zona. Zona pertama ialah kawasan simpang PLN menuju simpang Rajabali. Zona kedua dari simpang Rajabali hingga Jalan Jenderal Basuki Rahmat gang IV. Zona ketiga dari Jalan Jenderal Basuki Rahmat gang IV ke Sarinah.
Banyak perubahan yang berhasil dilakukan di 5 tahun kepemimpinan Sutiaji dan Sofyan Edi. Mulai dari penggantian aspal ke batuan andesit di persimpangan PLN dan Rajabali, pengadaan lampu-lampu di sepanjang pedestrian, replika lokomotif, dan lainnya.
Beberapa problem sempat mewarnai pengembangan Kayutangan Heritage di masa Sutiaji. Banyak masyarakat yang mengkritik bahwa Kayutangan Heritage hampir kehilangan jati dirinya sebab serupa dengan Malioboro, Yogyakarta. Begitu pula ketika kawasan Kayutangan mulai dilakukan penerapan satu arah.
Tak hanya itu, warga maupun pengunjung mulai resah dengan kemacetan dan keberadaan lahan parkir sering dengan berkembangnya kawasan tersebut.
Pemkot Malang saat ini memberikan beberapa skema terkait penyelesaian masalah perparkiran. Mulai dari rencana pembelian bangunan di Jalan Basuki Rahmat No 50, hingga membuka wacana gedung parkir di lahan eks DLH Kota Malang Jalan Majapahit.
Penataan Berlanjut di Masa Kepemimpinan Pj Iwan Kurniawan
Ketika kekuasaan berganti, Kota Malang beserta beberapa daerah di Indonesia sempat dipimpin oleh Penjabat (Pj) Kepala Daerah. Kota Malang mengalami dua kali pergantian Pj Wali Kota, dari Wahyu Hidayat ke Iwan Kurniawan.
Meski hanya beberapa bulan menjabat, Pj Iwan Kurniawan turut serta dalam penataan kawasan Kayutangan Heritage, berikut dengan problema perparkiran. Iwan sempat melakukan penandatanganan MoU dengan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) untuk kembali merevitalisasi Kayutangan Heritage. Rencana tersebut sebagai langkah agar wisata heritage itu tak surut termakan zaman.
Pada masa kepemimpinannya, parkir vertikal di lahan eks DLH Kota Malang Jalan Majapahit mulai direalisasikan dan rampung pada November 2024. Kantong parkir tersebut mampu menampung sekitar 15 kendaraan roda empat, serta 450 unit kendaraan roda dua (motor).
Penataan kembali menemukan titik terang dengan hadirnya rencana pembangunan gedung parkir di lahan eks Mandiri. Ia sempat memimpin kerja bakti di lahan eks Mandiri yang telah disiapkan sebagai lahan parkir di Kayutangan Heritage.
Upaya percepatan telah ia lakukan sejak September 2024 hingga berhasil melakukan proses pelunasan pembayaran pada Februari 2025. Bahkan sebelum pelunasan, ditemukan kesepakatan dengan pemilik aset untuk pemanfaatan bangunan sebagai area parkir sementara ketika Natal dan tahun baru (Nataru).
Gedung Parkir Kayutangan Resmi Beroperasi di Masa Wahyu Hidayat
Butuh waktu panjang dalam penataan kawasan Kayutangan Heritage dan mengatasi masalah parkir. (Foto: Lutfia/Ketik)
Pembangunan Gedung Parkir Kayutangan terus berlanjut di kepemimpinan Wahyu Hidayat dan Ali Muthohirin. Pada sekitar Maret 2025, penyusunan Detail Engineering Design (DED) dilakukan. Rencananya gedung eks Bank Mandiri ini akan terintegrasi dengan Parkir Vertikal Majapahit.
Pemkot Malang kemudian resmi memulai pembangunan gedung parkir pada 30 Juli 2025 dengan nilai Rp9,1 miliar. Pembangunan akhirnya rampung pada 25 Desember 2025.
Masa uji coba pertama dilakukan pada 31 Desember 2025. Setelah itu dilakukan evaluasi dan beberapa perbaikan selama seminggu. Hingga pada 7-13 Januari 2026, gedung parkir kembali dibuka dan masuk pada tahap sosialisasi.
Selama masa uji coba dan sosialisasi, Wahyu meminta agar masyarakat dapat mengakses layanan parkir secara gratis. Selanjutnya pada 14 Januari 2026, tarif parkir kembali normal.
Dengan berdirinya Gedung Parkir Kayutangan, Wahyu meminta petugas menindak tegas oknum yang bandel dan enggan mematuhi aturan. Bahwa kawasan Kayutangan Heritage harus steril dan tak ada toleransi terhadap tindakan parkir sembarangan. (*)
