Kementerian Haji Gandeng UIN Malang, Fokus Turunkan Angka Kematian Jamaah Haji

3 Februari 2026 17:04 3 Feb 2026 17:04

Thumbnail Kementerian Haji Gandeng UIN Malang, Fokus Turunkan Angka Kematian Jamaah Haji

Penandatanganan MoU oleh Kementerian Haji dan UIN Malang yang dilaksanakan di  Kampus 3 UIN Malang, Junrejo, Kota Batu. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

KETIK, BATU – Tingginya angka kesakitan dan kematian jamaah haji Indonesia mendorong Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia menggandeng perguruan tinggi.

Salah satu mitra strategis tersebut adalah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang), yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Kampus 3 UIN Malang, Junrejo, Kota Batu, Selasa, 3 Februari 2026.

Menteri Haji dan Umrah RI, Muhammad Irfan Yusuf, menyebut UIN Malang memiliki keunggulan penting, khususnya pada Fakultas Kedokteran yang fokus pada bidang kesehatan haji.

Kerja sama ini diharapkan mampu menekan angka kesakitan dan kematian jamaah haji Indonesia yang saat ini masih tergolong tinggi.

“Salah satu keunggulan UIN Maliki adalah fakultas kedokterannya yang memiliki fokus pada kedokteran haji. Sebagai Kementerian Haji, kami berharap bisa bekerja sama untuk mengejar target penurunan angka kesakitan dan kematian jamaah haji,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pemerintah Arab Saudi menetapkan batas toleransi angka kematian jemaah haji sebesar 30 orang per 100 ribu jemaah. Dengan kuota sekitar 200 ribu jemaah, seharusnya angka kematian maksimal berada di kisaran 60 orang. Namun, kondisi saat ini masih jauh dari angka ideal tersebut.

“Faktanya, jumlah kematian jemaah haji Indonesia hampir mencapai 500 orang. Ini sekitar delapan kali lipat dari angka yang ditoleransi. Karena itu, kami bekerja keras untuk memperbaikinya, salah satunya melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi yang memiliki keahlian di bidang kesehatan haji,” tegasnya.

Menurut alumnus program Doktoral UIN Malang ini, bentuk kerja sama tidak sebatas pada penempatan dokter lulusan UIN Malang, melainkan mencakup pembinaan dan pendampingan kesehatan calon jamaah haji sejak jauh hari sebelum keberangkatan.

“Kami sudah mengetahui daftar jemaah haji hingga dua tahun ke depan. Mereka akan kami hubungi dan siapkan kesehatannya lebih awal. Tahun ini program ini mulai dijalankan,” jelasnya.

Selain itu, kerja sama juga mencakup sertifikasi calon petugas dan pembimbing ibadah haji, dengan penekanan yang berbeda-beda di setiap perguruan tinggi mitra.

Sementara itu, Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., menyampaikan bahwa kerja sama ini sejalan dengan pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, mulai dari pendidikan, riset, hingga pengabdian kepada masyarakat.

“Kerja sama ini pertama terkait pendidikan, yakni bagaimana kami menyiapkan sumber daya manusia yang akan menjadi petugas haji. Kedua, riset, di mana hasil penelitian kami diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi Kementerian Haji dalam pengambilan kebijakan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, hasil riset tersebut dapat menjadi dasar perbaikan penyelenggaraan haji, baik sebelum maupun setelah pelaksanaan, sehingga kebijakan yang diambil benar-benar berbasis data dan kajian ilmiah.

Pada aspek pengabdian masyarakat, UIN Malang selama ini telah menjalankan praktik berdampak tinggi (High-Impact Practices/HIP), terutama melalui Fakultas Kedokteran, berupa pendampingan kesehatan calon jamaah haji.

“Pendampingan dilakukan mulai dari sebelum pemberangkatan, coaching, pemeriksaan kesehatan, hingga ke embarkasi. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa, termasuk melalui program KKM yang akan difokuskan pada kesehatan jemaah haji dan umrah,” jelasnya.

Tak hanya Fakultas Kedokteran, UIN Malang juga melibatkan fakultas lain seperti Psikologi untuk pendampingan psikososial jamaah, serta Fakultas Syariah yang akan mengembangkan lembaga sertifikasi profesional di bidang manasik haji dan umrah.

“Ini adalah bentuk link and match antara UIN sebagai lembaga pendidikan dengan Kementerian Haji dan Umrah. Kementerian membutuhkan dukungan keilmuan, dan UIN juga membutuhkan ruang implementasi keilmuan,” katanya.

Ke depan, UIN Malang juga membuka peluang bagi mahasiswa kedokteran untuk menjalani koas atau praktik klinik di rumah sakit di Arab Saudi.

Langkah ini dinilai penting untuk memudahkan pendampingan jemaah haji Indonesia yang membutuhkan layanan medis di Tanah Suci.

“Mahasiswa kami sudah dibekali bahasa Arab amiyah. Dengan begitu, mereka bisa mendampingi jamaah yang dirawat di rumah sakit di Saudi agar tidak merasa takut atau kesulitan berkomunikasi,” pungkas Prof. Ilfi. (*)

Tombol Google News

Tags:

UIN Malang Kementrian Haji dan Umrah Calon Jemaah Haji Kota Batu