KETIK, MALANG – Kawasan Kayutangan Heritage dinilai sukses sebagai destinasi keramaian dan penarik kunjungan wisata, tapi masih lemah dari sisi heritage. Penilaian tersebut diungkapkan pencinta cagar budaya Malang, Restu Respati.
Menurut Restu, kemunculan Kayutangan Heritage tidak bisa dilepaskan dari tren pengembangan kota tua yang marak di sejumlah daerah.
“Beberapa tahun terakhir, kota-kota di Indonesia berlomba membuat destinasi wisata berbasis kawasan tua atau heritage. Jakarta, Bandung, Semarang, bahkan Yogyakarta sudah lebih dulu,” ujarnya.
Ia mengakui Pemerintah Kota Malang cukup responsif membaca tren tersebut. “Saya akui Pemkot Malang cepat tanggap mengambil sesuatu yang sedang in. Dari situ lahir Kayutangan Heritage,” katanya.
Namun, Restu menilai konsep yang diusung masih sebatas branding dan belum menyentuh esensi sejarah kawasan.
“Kalau bicara konsep, sejujurnya Kayutangan Heritage ini tidak punya konsep heritage yang kuat. Tidak ada kurasi yang jelas,” tegasnya.
Restu menilai keberhasilan Kayutangan lebih terlihat sebagai ruang keramaian dibanding kawasan pelestarian sejarah.
“Sebagai destinasi keramehan, ini berhasil. Untuk mendongkrak PAD, mungkin juga tercapai. Tapi dari sisi keheritage-an, menurut saya sama sekali tidak masuk,” ucapnya.
Ia juga menyoroti keseragaman usaha di kawasan tersebut. Menurutnya, dominasi kedai kopi tanpa diferensiasi justru mengaburkan identitas Kayutangan sebagai kawasan bersejarah.
“Jualannya seragam. Tidak jauh beda dengan deretan kedai kopi di kawasan lain seperti Dau atau Sudimoro. Tidak ada diversifikasi,” katanya.
Restu menyebut seharusnya Kayutangan Heritage mampu mengangkat kekhasan sejarah ekonomi Malang, khususnya sebagai kota perkebunan kopi pada masa kolonial.
“Kalau memang jadi kawasan kopi, harusnya yang diangkat kopi-kopi Malang. Sejarah Malang sebagai kota modern itu salah satunya ditopang oleh kopi, selain gula,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa pada masa Hindia Belanda, Malang berkembang sebagai pusat perkebunan kopi yang strategis.
“Pemerintah kolonial saat itu juga sangat berkepentingan dengan hasil kopi. Itu fakta sejarah yang seharusnya diangkat,” tambahnya.
Menurut Restu, penguatan konsep berbasis sejarah lokal akan membuat Kayutangan Heritage tidak sekadar menjadi ruang komersial, tetapi juga ruang edukatif.
“Kalau hanya ramai tapi tidak punya ciri khas, ya hanya numpang tren. Heritage itu seharusnya punya narasi dan identitas yang kuat,” pungkasnya. (*)
