KETIK, JOMBANG – Kasus keracunan massal yang dialami puluhan santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Mojoagung, Kabupaten Jombang, mulai menemukan titik terang.
Hasil uji laboratorium mengungkap adanya kandungan zat berbahaya pada makanan dari menu program MBG serta pencemaran bakteri pada air yang digunakan di lingkungan pondok.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menjelaskan bahwa sampel telur asin dari menu MBG yang dikonsumsi para santri terbukti mengandung nitrit. Kadar yang ditemukan mencapai 28 mikrogram per kilogram berat badan.
“Secara normal, makanan tidak boleh mengandung nitrit. Zat ini bisa memicu gejala seperti mual, muntah, hingga gangguan pencernaan secara tiba-tiba,” ujarnya, Selasa 17 Maret 2026.
Tak hanya itu, hasil pemeriksaan juga menunjukkan tingginya kandungan bakteri Escherichia coli (E.coli) pada air di lingkungan pondok. Air yang digunakan untuk memasak dan mencuci tercatat mengandung bakteri hingga 1.030 sampai 2.030 per mililiter.
“Seharusnya kandungan E.coli itu nol. Tapi hasilnya cukup tinggi, sehingga berisiko menyebabkan sakit perut, mual, hingga nyeri perut,” katanya.
Dari pemeriksaan lanjutan, sampel muntahan santri juga ditemukan mengandung bakteri Bacillus cereus, yang dikenal dapat memicu keracunan makanan.
Meski begitu, Dinkes belum dapat memastikan sumber utama bakteri tersebut. Pasalnya, tidak semua jenis makanan yang dikonsumsi santri diuji, termasuk pisang yang juga sempat dikonsumsi sebagian korban.
“Pemeriksaan difokuskan pada telur asin, rawon, air, serta sampel muntahan,” jelas Hexawan.
Ia menduga telur asin menjadi salah satu pemicu utama keracunan karena mengandung nitrit. Namun demikian, tidak semua santri yang mengonsumsi makanan tersebut mengalami gejala serupa.
“Diduga ada faktor intoleransi atau perbedaan kondisi makanan, baik dari kualitas maupun distribusinya,” paparnya.
Terkait munculnya kandungan nitrit, Hexawan menilai hal itu bisa dipengaruhi oleh proses penyimpanan yang terlalu lama atau kualitas bahan baku yang tidak terkontrol dengan baik.
“Bisa karena penyimpanan atau perbedaan sumber bahan. Ini perlu evaluasi dalam pengadaan bahan makanan,” imbuhnya.
Sebagai langkah penanganan, Dinkes Jombang telah memberikan pembinaan kepada pengelola pondok, khususnya dalam peningkatan sanitasi lingkungan. Perbaikan sistem filtrasi air juga diminta segera dilakukan untuk menekan kandungan bakteri berbahaya.
“Kami tekankan pentingnya sanitasi yang baik. Sistem penyaringan air harus diperbaiki agar kualitas air lebih aman digunakan,” tegasnya.(*)
