KETIK, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tingkat provinsi dan kabupaten/kota siap siaga menghadapi potensi musim kemarau ekstrem yang kerap dikaitkan dengan fenomena El Nino.
“Mitigasi harus dilakukan secara terukur dan terkoordinasi dengan melibatkan seluruh pemerintah daerah,” ujarnya di sela peresmian Gedung Gerha Majapahit dan Gedung Olahraga di Kantor BPBD Jatim, Kabupaten Sidoarjo pada Kamis, 9 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa berbagai langkah antisipatif telah disiapkan guna menjaga stabilitas sektor pertanian dan ketahanan pangan di Jatim.
“Pompa pompa air dalam akan disiapkan menghadapi musim kemarau oleh Dinas Pekerjaan Umum kepada daerah-daerah yang sudah dipetakan sehingga Indeks Pertanaman (IP) tetap di angka 2,7. Kita harus melakukan kewaspadaan berganda," tegas Khofifah.
Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Jawa Timur diperkirakan berlangsung pada April hingga Agustus 2026 dengan potensi peningkatan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Sejumlah langkah antisipatif sejak dini yang harus dilakukan, lanjut Khofifah, yakni pertama memetakan wilayah rawan kekeringan sekaligus membangun sistem peringatan dini (early warning system) serta mengaktifkan brigade kekeringan.
Berikutnya, mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, pemanfaatan sumur air dangkal hingga pemanfataan teknologi pompanisasi, perpipaan dan irigasi perpompaan.
Langkah selanjutnya, mendorong percepatan masa tanam di wilayah potensial dengan menggunakan varietas tanaman yang tahan kekeringan dan berumur genjah.
Lalu, menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim serta ketersediaan air di masing-masing daerah serta memperkuat koordinasi dan sinergi antara pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan produksi pertanian secara berkelanjutan.
“Ketahanan pangan adalah fondasi. Kita harus pastikan Jawa Timur tetap menjadi lumbung pangan nasional, bahkan dalam kondisi iklim yang menantang,” tuturnya. (*)
