KETIK, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan sarana dan fasilitas penunjang SMAN Taruna Madani Jawa Timur, rehabilitasi dan revitalisasi 22 SMA, SMK dan SLB Negeri/Swasta wilayah Pasuruan dan Probolinggo, Kamis, 15 Januari 2026.
Khofifah menyampaikan, peresmian sarana prasarana fasilitas penunjang menjadi bukti Pemprov Jatim mencetak generasi emas berkarakter.
"Ini merupakan wujud nyata komitmen kita bersama dalam menyediakan ruang belajar yang layak bagi putra-putri Jawa Timur, guna mencetak generasi emas yang kompetitif dan berkarakter," kata Gubernur Khofifah.
Peresmian sarpras itu tak sekadar pemenuhan sarana fisik, melainkan penegasan komitmen memperkuat kualitas dan makna belajar. Pembangunan sarpras menjadi bagian integral dari transformasi pendidikan Jatim menyiapkan generasi yang mampu menghadapi kompleksitas masa depan.
"Sekolah merupakan ruang tumbuh, tempat nilai, karakter, dan mimpi dirajut. Oleh sebab itu, ketika pemerintah melakukan pemenuhan sarana dan prasarana sekolah, sesungguhnya yang sedang kita lakukan adalah menjaga martabat pendidikan sekaligus masa depan generasi," terangnya.
Program ini tidak berhenti pada perbaikan bangunan, tetapi juga upaya menciptakan ekosistem belajar yang sehat. Dari ruang kelas yang aman, sanitasi layak, fasilitas penunjang pembelajaran memadai, serta suasana sekolah yang ramah anak.
"Fasilitas sarpras ini adalah upaya untuk menjaga mutu pendidikan menengah dan vokasi, agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, kebutuhan dunia kerja, dan tantangan masa depan," ujarnya.
Disampaikan, rehabilitasi dan revitalisasi ini dilakukan sebagai penguatan ekosistem pembelajaran. Harapannya saat ekosistem pendidikan diberikan dukungan terbaik maka akan berseiring dengan prestasi para siswa yang lebih baik.
"Suasana belajar mengajar menjadi makin convinient dan harapan kita prestasinya juga akan makin meningkat dan yang kita lakukan ini menjadi bagian dari program besar peningkatan kualitas SDM Jawa Timur melalui kewenangan Pemprov," jelasnya.
Ditegaskan, sarpras dan fasilitas penunjang yang baik tidak akan bermakna tanpa jiwa pendidikan didalamnya. Jiwa pendidikan itu ada pada guru yang mengajar dengan hati, kepala sekolah yang memimpin dengan keteladanan, dan anak‑anak yang belajar dengan semangat, disiplin, serta akhlak yang baik.
Rehabilitasi dan revitalisasi fasilitas penunjang yang diresmikan mencakup 22 sekolah SMA, SMK, dan SLB di wilayah Pasuruan dan Probolinggo. Di wilayah Pasuruan menyasar 16 sekolah dengan anggaran mencapai Rp 16,33 miliar.
Sekolah tersebut antara lain SMAN Taruna Madani Jatim, SMAS Al-Ma Hadul Islami Beji, SMAN 1 Pandaan, SMAN 3 Pasuruan, SMAN 1 Pasuruan, SMAN 1 Purwosari, SMA 45 Purwodadi Pasuruan, SMKN 1 Purwosari, SMKN 1 Grati, SMK Miftahul Huda Gempol, SMK Darul Ulum Purwodadi, SMK PGRI 4 Pasuruan, SLBN Pandaan, SLBN Bandaran, SLBN 1 Pasuruan, dan SMK Al-Yasini Wonorejo.
Sedangkan rehabilitasi dan revitalisasi yang diresmikan untuk Cabang Dinas Wilayah Probolinggo, yakni 6 sekolah yaitu SMAN Sukapura, SMAN 3 Probolinggo, SMAN 4 Probolinggo, SMA Taruna Dra. Zulaeha, SMAS Nurul Hasan, SLBN Gending.
Rehabilitasi dan revitalisasi sarana dan fasilitas penunjang di wilayah Probolinggo menggunakan anggaran senilai Rp 7,38 miliar. Lanjut Gubernur Khofifah, komitmen Pemprov Jatim terhadap prinsip keadilan dan kemitraan. Sekolah swasta, termasuk SMA, SMK, dan SLB swasta, adalah mitra strategis pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Di manapun para siswa bersekolah, memiliki hak yang sama atas lingkungan belajar yang layak. Oleh karena itu, rehabilitasi dan revitalisasi sekolah negeri maupun swasta harus dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem pendidikan di Jawa Timur," tegasnya.
Disampaikan, bahwa tantangan ke depan bukan hanya memastikan bangunan berdiri kokoh, tetapi juga fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pembelajaran bermutu. Sedangkan revitalisasi dan rehabilitasi fisik diikuti dengan revitalisasi cara mengajar, cara belajar, dan cara memimpin sekolah.
"Kepala sekolah, guru, dan seluruh pemangku kepentingan perlu menjadikan momentum ini sebagai penguat budaya refleksi, inovasi, dan kolaborasi dalam pembelajaran," ujarnya.
"Kita sudah punya Bank Talent DNA, di Indonesia insyaallah yang sudah memiliki bank Talent DNA adalah pendidikan di Provinsi Jawa Timur. Ketika instansi atau lembaga tertentu membutuhkan talent tertentu mereka sudah bisa mengunduh dari bank Talent DNA yang ada di Jawa Timur," ujarnya.
Talent DNA, disebut menjadi instrumen untuk mengidentifikasi dan memitigasi potensi dan kompetensi siswa. Itu berseiring dengan penyiapan SDM untuk menjawab tantangan masa depan yang menuntut diversifikasi profesi berdasarkan spesialisasi, spesifikasi DNA dan profesionalisme di bidang bidang tertentu.
"Talent DNA adalah cara kita mengidentifikasi dan memitigasi bahwa masing-masing anak didik memiliki kekuatan luar biasa jika dilakukan mitigasi yang sesuai dengan talent DNA nya," katanya.
Di balik sarana dan prasarana sekolah yang diresmikan, ada harapan para orang tua, ada doa para guru, dan ada masa depan anak‑anak yang sedang bertumbuh.
Setiap ruang kelas yang diperbaiki dan setiap fasilitas yang dilayakkan sesungguhnya adalah bentuk perhatian, dan kasih sayang negara kepada generasi muda penerusnya.
"Mari kita jaga dan rawat bersama hasil dari ikhtiar ini dengan penuh tanggung jawab. Mari kita isi dengan proses pendidikan yang bermakna, agar sekolah‑sekolah di Jawa Timur benar‑benar menjadi tempat lahirnya generasi yang berilmu, berkarakter, dan berakhlak mulia," pungkasnya. (*)
