KETIK, MALANG – Tak hanya menjadi tempat ibadah, Gereja Paroki Hati Kudus Yesus di kawasan Kayutangan Heritage juga menawarkan nilai wisata sejarah melalui arsitektur Neo Gothic tertua di Kota Malang.
Gereja yang berlokasi di Jalan MGR Sugiyopranoto No. 2, Kota Malang, ini menjadi salah satu bangunan bersejarah yang merekam perjalanan panjang perkembangan Gereja Katolik di wilayah Malang Raya.
Salah satu tim kunjungan Gereja Paroki Hati Kudus Yesus menjelaskan bahwa gereja ini mulai berdiri secara mandiri pada 4 Juni 1897. Sebelumnya, gereja tersebut masih menjadi bagian dari Paroki Kepanjen Surabaya.
“Sejak 4 Juni 1897, Gereja Paroki Hati Kudus Yesus berdiri sendiri dan tidak lagi berada di bawah Paroki Kepanjen Surabaya,” ujarnya, Rabu, 14 Januari 2026.
Bangunan ini dikenal sebagai gereja bergaya Neo Gothic tertua di Kota Malang, dengan ukuran panjang sekitar 41 meter, lebar 11,4 meter, dan tinggi ruang utama mencapai 15,2 meter.
“Dari sisi arsitektur, gereja ini mengusung gaya Neo Gothic dan menjadi yang tertua di Malang, dengan dimensi bangunan yang cukup besar pada masanya,” jelasnya.
Pembangunan gereja menghabiskan biaya sebesar 30.972 gulden dan melibatkan sejumlah tokoh penting. Perancangan dilakukan oleh Ir. Marius J. Hulswit, sementara pelaksanaan pembangunan dikerjakan oleh pemborong C. Vis, Van’t Pad, dan Bourguignon, dengan Moulijn sebagai pengawas proyek.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pater G.D.A. Jonckbloet, S.J. pada 11 Mei 1905, menandai dimulainya pembangunan gereja yang berlangsung sekitar tujuh bulan.
Interior Gereja Hati Kudus Yesus yang masih kental dengan nuansa arsitektur Neo Gothic. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)
Salib utama gereja ditempatkan pada 30 Desember 1905, disusul pemasangan patung Hati Kudus Yesus yang didatangkan dari Belanda pada 1906.
Dua menara gereja setinggi 33 meter yang kini menjadi ciri khas bangunan tersebut baru dibangun pada 1930, berdasarkan rancangan Ir. Albert Grunberg, dan diberkati oleh Mgr. Clemens Van der Pas pada 14 Desember 1930.
Dalam perjalanan sejarahnya, gereja ini pernah mengalami peristiwa tragis. Pada 27 November 1967, sebuah pesawat mengalami kecelakaan dan menabrak salib menara sebelah kiri sebelum jatuh di kawasan Buring.
“Kejadian kecelakaan pesawat pada 1967 menjadi bagian sejarah kelam gereja ini, karena pesawat sempat menabrak salib di menara kiri sebelum jatuh,” tuturnya.
Gereja Paroki Hati Kudus Yesus juga menyimpan dua lonceng bersejarah yang dibuat oleh perusahaan peleburan logam ternama asal Belanda, Petit en Fritsen di Aarle-Rixtel.
“Lonceng pertama memiliki berat 303 kilogram dengan nada A, sedangkan lonceng kedua berbobot 185 kilogram dengan nada E. Keduanya dibuat oleh Petit en Fritsen di Belanda,” jelasnya.
Prasasti marmer berbahasa Belanda dipasang pada 16 Maret 1907. Prasasti tersebut menjelaskan bahwa gereja dipersembahkan kepada Hati Kudus Yesus dan diberkati oleh Mgr. Edmundus Sybrandus Luypen pada 7 Januari 1906.
Seiring perkembangan pengelolaan paroki, sejak 1923 Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Malang berada di bawah pengelolaan Ordo Karmel (O.Carm) dan kini berada dalam naungan Keuskupan Malang.
Sebagai bagian dari upaya pelestarian, pada 27 Februari 2018 sebuah patung baru Hati Kudus Yesus ditempatkan di antara dua menara gereja dan diberkati oleh Mgr. Henricus Pidyarto, O.Carm.
Berdasarkan data tahun 2022, jumlah umat Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Malang tercatat sekitar 1.092 orang. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, gereja ini juga terbuka untuk kunjungan masyarakat umum sebagai bagian dari wisata religi dan sejarah di kawasan Kayutangan Heritage.
“Kami terbuka untuk kunjungan masyarakat. Untuk pengunjung umum bisa datang langsung ke sekretariat gereja pada Selasa hingga Minggu, sedangkan instansi diharapkan mengajukan surat permohonan terlebih dahulu,” tutupnya. (*)
