KETIK, MALANG – Tak butuh gedung megah untuk memulai sebuah pergerakan. Malang Performance Art Community (MAPAC) membuktikan dedikasinya dalam melestarikan seni di Malang melalui panggung yang tak biasa.
Perform pertama mereka bukan digelar di tempat megah, melainkan di bawah jembatan Kali Brantas. Sejak saat itu, Malang seolah menjadi panggung bebas bagi mereka.
Tidak ada lokasi khusus yang harus dipakai. Dari ruang publik, monumen, hingga kini Balai Kota, semuanya pernah menjadi bagian dari perjalanan karya mereka.
“Memang dari awal kita enggak pernah patok tempat. Di mana pun bisa jadi ruang ekspresi,” ujar Soge Ahmad ditemui di Balai Kota Malang, Rabu, 1 April 2026.
Perpindahan ruang ini bukan tanpa alasan. Bagi MAPAC, seni seharusnya hadir dekat dengan masyarakat, bukan hanya dinikmati di ruang-ruang tertentu saja.
Meski kini ikut meramaikan perayaan Hari Jadi ke-112 Kota Malang di Balai Kota, cara mereka tetap sama seperti dulu sederhana dan spontan. Bahkan dalam beberapa kesempatan, mereka memilih untuk tampil tanpa melalui proses perizinan formal.
“Kadang kita langsung bergerak saja. Tapi tetap tahu batas, nggak bikin kerumunan atau ganggu sekitar,” jelas Soge.
Baginya, yang terpenting bukan soal prosedur, tapi bagaimana karya tetap bisa tersampaikan tanpa merugikan orang lain.
Selama perjalanannya, MAPAC juga konsisten menghadirkan festival tahunan lewat PAMAFest yang kini sudah memasuki tahun ke-16. Menariknya, festival ini tidak hanya diikuti seniman lokal, tapi juga dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Pasuruan, Probolinggo, hingga Bondowoso.
Bahkan, pada PAMAFest ke-3, MAPAC pernah menghadirkan seniman performance art dari Singapura. Sementara pada PAMAFest ke-11 di tahun 2020, yang digelar di tengah pandemi, acara ini tetap berjalan dengan melibatkan seniman dari berbagai kota di Indonesia, bahkan hingga menghadirkan partisipasi dari Australia.
Tak hanya itu, ruang-ruang yang mereka pilih juga sering membawa cerita tersendiri. Seperti saat mereka tampil di Monumen Hamid Rusdi untuk mengenalkan sosok pahlawan lokal, atau ketika membuat performance untuk mengenang satu tahun tragedi Kanjuruhan.
Semua itu menunjukkan bahwa bagi MAPAC, tempat bukan sekadar lokasi, tapi bagian dari makna karya itu sendiri.
Di balik kesederhanaannya, mereka tetap punya harapan besar untuk kota ini. Malang, menurut Soge, bukan hanya kota tempat tinggal, tapi juga ruang eksperimen yang hidup.
“Malang sebagai salah satu laboratorium arsitektur jengki di Indonesia. Bahkan sejak 112 tahun lalu, Malang adalah salah satu kota yang memiliki tata ruang yang sangat baik, sehingga memiliki karakter dan wajah kota yang benar-benar menjadi identitasnya,” ujarnya.
Di usia yang ke-112, Kota Malang mungkin terus berubah. Tapi lewat langkah kecil yang berpindah-pindah ini, MAPAC membuktikan bahwa seni akan selalu menemukan jalannya di mana pun ruang itu tersedia. (*)
