KETIK, BONDOWOSO – Kabupaten Bondowoso kembali menarik perhatian dunia internasional. Daerah yang berada di kawasan Ijen Geopark ini dipercaya menjadi lokasi pelaksanaan International Community Development (ICD) 2026, sebuah forum pengabdian masyarakat berskala global yang mempertemukan akademisi, pemerintah, dan komunitas lintas negara.
Kegiatan ICD 2026 secara resmi dibuka oleh Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid, dengan dihadiri jajaran pejabat pusat dan daerah, termasuk Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI Dr. (H.C) H. Abdul Muhaimin Iskandar yang mengikuti acara secara daring.
Hadir pula Rektor Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Prof. Dr. Nurhasan, Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i, Ketua DPRD Bondowoso H. Ahmad Dhafir, Forkopimda, serta pimpinan OPD Pemkab Bondowoso.
Program yang didukung pendanaan EQUITY-LPDP ini menghadirkan narasumber internasional dari berbagai negara, di antaranya Korea Selatan, Uzbekistan, Australia, Malaysia, dan Filipina.
Partisipasi akademisi dunia tersebut menegaskan arah ICD 2026 sebagai wadah internasionalisasi pengabdian masyarakat berbasis riset dan kolaborasi lintas budaya.
Dalam sambutannya, Bupati Abdul Hamid Wahid menegaskan bahwa kerja sama antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam mempercepat pembangunan masyarakat.
Menurutnya, Bondowoso tidak hanya menjadi lokasi kegiatan, tetapi juga ruang belajar bersama bagi akademisi dan masyarakat. pada Kamis (05/02/26)
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa pengabdian masyarakat dapat menjadi motor pembangunan daerah, sekaligus membuka ruang internasionalisasi bagi perguruan tinggi,” ujar Bupati.
Ia juga menekankan posisi strategis Bondowoso sebagai bagian dari Ijen Geopark, kawasan yang telah mendapat pengakuan UNESCO. Fenomena Blue Fire Kawah Ijen, lanskap pegunungan.
Dan juga situs-situs megalitikum disebut sebagai kekayaan alam dan budaya yang bernilai tinggi untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan dan riset multidisipliner.
Selain potensi alam, Bondowoso dikenal sebagai daerah agraris dengan kekuatan ekonomi desa. Komoditas unggulan seperti kopi Arabika Ijen Raung yang telah mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis memperkuat identitas daerah melalui branding “Bondowoso Republik Kopi”.
Dalam pembangunan sosial, Pemkab Bondowoso saat ini memprioritaskan penguatan tata kelola pemerintahan desa serta peningkatan literasi digital, khususnya bagi generasi muda.
Langkah tersebut diarahkan agar potensi lokal desa mampu menembus pasar global tanpa kehilangan nilai kearifan lokal.
Melalui ICD 2026, pemerintah daerah berharap tercipta transfer pengetahuan yang aplikatif, solusi inovatif yang berkelanjutan bagi desa, serta promosi Bondowoso ke tingkat internasional melalui para delegasi yang hadir.
“Kami ingin Bondowoso dikenang bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang terbuka, inovatif, dan siap berkolaborasi,” tutur Bupati.
Menandai dimulainya rangkaian kegiatan, Bupati Abdul Hamid Wahid secara resmi membuka International Community Development 2026 dan mengajak seluruh peserta untuk mengenal lebih dekat kekayaan alam, budaya, serta keramahan masyarakat Bondowoso.
ICD 2026 diharapkan menjadi fondasi kuat bagi kerja sama jangka panjang antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas internasional dalam mewujudkan pembangunan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.(*)
