HUT ke-112 Kota Malang

Berusia 1,5 Abad, Turntable Masih Tangguh Putar Lokomotif di Stasiun Malang

1 April 2026 17:43 1 Apr 2026 17:43

Thumbnail Berusia 1,5 Abad, Turntable Masih Tangguh Putar Lokomotif di Stasiun Malang

Alat pemutar lokomotif atau turntable di Stasiun Malang berusia 1,5 abad. (Foto: Kukuh/ketik.com)

KETIK, MALANG – Kemajuan Kota Malang yang kini genap berusia 112 tahun pada 1 April 2026 tidak terlepas dari berbagai faktor. Salah satunya moda transportasi darat yang konsisten menunjang mobilitas masyarakat, terutama kereta api menjadi kunci dalam kemajuan ekonomi.

Membahas soal sejarah kereta api di Malang, tidak lepas dari peran vital peralatan penunjang bernama turntable (alat untuk memutar lokomotif) yang ada di Stasiun Malang. 

Tepat berada di belakang permukiman warga di Jalan Panglima Sudirman, Gang Manunggal, Kecamatan Klojen, alat bersejarah ini ternyata masih berfungsi sempurna dan aktif digunakan hingga sekarang. 

Pemerhati sejarah kereta api, Tjahjana Indra Kusuma, mengatakan bahwa pemasangan turntable di Stasiun Malang bersamaan dengan dibukanya jalur kereta api Bangil-Malang pada masa Kolonial Belanda.

"Terkait turntable itu, biasanya satu paket dengan pembangunan jalur kereta. Pada awalnya, perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS) membuka terlebih dahulu jalur kereta api Surabaya-Bangil-Pasuruan pada tahun 1878. Lalu di tahun 1879, dibuka jalur kereta dari Bangil-Sengon-Lawang-Malang," jelasnya kepada Ketik.com, Rabu, 1 April 2026. 

Kehadiran alat tersebut memiliki peranan vital dalam menunjang operasional perkeretaapian. Seiring dengan volume pulang pergi (PP) rute Malang Surabaya yang terus meningkat signifikan.

"Pada masa kejayaan SS, volume transportasi kereta per hari pulang pergi Malang Surabaya meningkat sampai dengan 14 kali. Sehingga, kehadiran turntable sangat vital dan disesuaikan dengan jarak, kebutuhan, serta fasilitas kelas stasiun yang dibangun," terangnya.

Mekanisme turntable di Stasiun Malang tetap mempertahankan sisi tradisionalnya. Alat ini sepenuhnya dioperasikan menggunakan tenaga manusia untuk memutar posisi lokomotif.

"Cara kerjanya, yaitu lokomotif yang akan diputar  masuk di turntable. Setelah dipastikan posisinya benar dan terkunci, maka bisa diputar. Diputarnya pakai tenaga orang, dan biasanya ada empat orang yang memutar," bebernya.

Walaupun lokomotif secara teknis memiliki kemampuan untuk bergerak mundur, Tjahjana menekankan bahwa memutar arah lokomotif adalah prosedur standar demi alasan keamanan.

"Jadi, lokomotif itu mempunyai kemampuan yang optimal pada kondisi maju. Ada beberapa pertimbangan khusus mengapa kereta harus diputar yaitu salah satunya terkait keselamatan," tandasnya.

Hebatnya, meski usianya telah menyentuh angka 1,5 abad, turntable ini masih terawat dengan sangat baik di bawah naungan PT KAI Daop 8 Surabaya. Berkat perawatan rutin tersebut, proses pemutaran lokomotif tetap berjalan lancar setiap harinya. Tercatat, rata-rata ada lima lokomotif yang masih memanfaatkan fasilitas bersejarah ini setiap hari untuk menyesuaikan arah perjalanan.(*)

Tombol Google News

Tags:

Kota Malang Alat Turntable Lokomotif Stasiun Malang malang Kereta Api turntable