KETIK, GRESIK – Kalangan pengusaha di Jawa Timur mulai mendorong pemerintah memberikan insentif bagi sektor industri yang terdampak eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Gresik bersama Kadin Jawa Timur menggelar pertemuan dengan seluruh ketua Kadin kabupaten/kota se-Jawa Timur untuk membahas langkah strategis menghadapi dampak gejolak global tersebut.
Pertemuan yang juga dihadiri Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), serta Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) itu menjadi forum konsolidasi sekaligus halal bihalal di bulan Syawal.
Ketua Kadin Kabupaten Gresik, Moch Choirul Rizal, menyampaikan kenaikan harga bahan bakar industri mulai dirasakan pelaku usaha dan berpotensi menekan kinerja sektor produksi.
"Hari ini solar industri sudah naik. Yang tadinya antara Rp15 ribu-Rp16 ribu per liter, sekarang sudah Rp20 ribu per liter. Jadi pasti nanti semua sektor akan terpengaruh terhadap hal ini," ujarnya.
Menurutnya, lonjakan biaya tersebut akan berdampak berantai, mulai dari kenaikan harga bahan baku hingga harga jual produk di pasar.
Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berisiko memicu tekanan serius bagi dunia usaha, termasuk ancaman pemutusan hubungan kerja.
Karena itu, Kadin mendorong pemerintah pusat dan daerah segera merumuskan kebijakan insentif untuk meredam dampak tersebut.
Insentif dinilai penting agar pelaku industri tetap mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.
"Kita tetap berkoordinasi dengan pemerintah bagaimana mungkin ada insentif-insentif yang bisa didapatkan. Sehingga gejolaknya tidak terlalu besar," jelasnya.
Selain mendorong kebijakan, Kadin juga mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi situasi konflik internasional yang tengah berlangsung.
"Yang penting masyarakat tetap tenang. Tidak perlu bingung atau panik dengan kondisi ini," pungkasnya.(*)
