KETIK, JAKARTA – Berita duka datang dari keluarga besar Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Istri mantan Kapolri, Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Ny. Meriyati Hoegeng, meninggal dunia, Selasa, 3 Februari 2025 siang dalam usia 100 tahun.
Meriyati Hoegeng, sebelumnya sempat dirawat intensif RS Bhayangkara Polri, Kramatjati, Jakarta Timur. Jenazah perempuan yang lahir pada 23 Juni 1925 ini akan disemayamkan di rumah duka, di Perumahan Pesona Khayangan Depok.
Eyang Meri merupakan putri pasangan Mas Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Ayahnya, Mas Soemakno Martokoesoemo, merupakan inspektur Kesehatan di Jawa Tengah.
Pada 31 Oktober 1946. keponakan Besar Martokoesoemo, pengacara pribumi pertama di Indonesia ini menikah dengan Hoegeng. Mereka saling mengenal ketika sama-sama menjadi pemeran dalam sandiwara radio Saija dan Adinda.
Dari pernikahan ini, pasangan Hoegeng dan Eyang Meri memiliki tiga anak, Renny Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, dan Sri Pamujining Rahayu.
Sejak menikah, Eyang Meri terus menemani Hoegeng dalam setiap penugasannya, termasuk saat harus mengungsi akibat Agresi Militer Belanda.
Eyang Meri terkenal setia mendukung Hoegeng, yang dikenal sebagai sosok polisi paling bersih di Indonesia. Ia bahkan sempat membuka usaha toko bunga di Cikini untuk menyokong perekonomian keluarga.
Tak lama beroperasi, Eyang Meri menutup toko bunganya itu. Hoegeng takut jika ada konflik kepentingan dengan adanya toko bunga tersebut.
Ketika Hoegeng dipaksa pensiu dini dari kepolisian, Eyang Meri terus mendampingi Hoegeng. Mereka sempat membuka usaha melukis dan mengisi acara di sejumlah acara televisi dan radio.
Eyang Meri terus setia mendampingi Hoegeng, sampai penanda tangan Petisi 50 ini meninggal dunia pada 2004 silam. (*)
