KETIK, MALANG – Kota Malang kini diperkaya oleh puluhan hotel, mulai dari hotel berbintang lima hingga kelas melati. Semuanya menjadi incaran wisatawan saat berkunjung ke kota ini.
Di balik modernitasnya, kota ini menyimpan deretan hotel legendaris yang telah berdiri sejak era kolonial Belanda dan masih beroperasi hingga kini. Berikut adalah tiga hotel tertua di Kota Malang yang merawat jejak sejarah:
1. Hotel Pelangi Malang
Berdiri sejak tahun 1916, hotel ini awalnya bernama Palace Hotel yang didirikan oleh warga Belanda. Terletak di Jalan Merdeka Selatan No. 3, posisinya sangat strategis, tepat di antara Alun-alun Merdeka dan Masjid Agung Jami Kota Malang.
Saat pendudukan Jepang, namanya berganti menjadi Hotel Assoma, lalu kembali menjadi Palace Hotel pada tahun 1945. Baru pada tahun 1953, hotel ini dibeli oleh pengusaha asal Banjarmasin, H. Sjachran Hoesin, dan berganti nama menjadi Hotel Pelangi.
Meski berstatus hotel tertua, fasilitasnya tetap mengikuti zaman dengan adanya business center, ruang pertemuan, hingga kolam renang. Keunikannya terletak pada area restoran yang dipertahankan keasliannya, termasuk sebuah podium di bagian atas yang dulu digunakan untuk berdansa.
2. Riche Heritage Hotel Malang
Kawasan Kayutangan (dahulu Kajoeetanganstraat) adalah pusat keramaian di era kolonial. Tak heran jika di Jalan Jenderal Basuki Rahmat No. 01 ini berdiri Riche Heritage Hotel sejak tahun 1933.
Keaslian bangunan ini masih terjaga, terlihat dari model daun pintu dan ubin keramiknya yang sangat klasik. Menariknya, pada masa Belanda, bangunan ini sempat difungsikan sebagai asrama tentara. Gaya arsitektur asrama tersebut masih terasa pada deretan kamar yang dilengkapi kursi-kursi di bagian depannya.
Pada tahun 1975, hotel ini dibeli oleh Oey Pek Hong (Prof. Dr. Juwana Hardjawijaja), seorang jaksa tinggi di Kota Malang. Hingga kini, Riche Heritage terus memperbarui fasilitasnya agar tetap kompetitif dengan hotel-hotel modern tanpa menghilangkan identitas klasiknya.
3. The Shalimar Boutique Hotel Malang
Hotel bintang lima yang elegan ini dulunya adalah gedung societeit (balai pertemuan) di kawasan elite Malang pada tahun 1930. Bangunannya dirancang oleh arsitek Belanda, Ir. Muller, yang namanya kini diabadikan sebagai salah satu nama aula (ballroom).
Berlokasi di Jalan Cerme No. 16, Oro-oro Dowo, gedung ini sempat berganti fungsi berkali-kali. Mulai dari tempat pertemuan Freemason, kantor RRI (Radio Republik Indonesia) pada 1964, hingga penginapan bernama Malang Inn pada 1993.
Dua tahun berselang, ia bersalin rupa menjadi Hotel Graha Cakra dengan nuansa tradisional Jawa, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi The Shalimar Boutique Hotel pada 2014. Karena statusnya sebagai Cagar Budaya, struktur asli bangunan ini tidak boleh diubah. Dengan dominasi interior putih dan ornamen Eropa klasik, hotel ini menjadi magnet utama bagi wisatawan mancanegara.
Itu tadi tiga bangunan hotel tertua di Kota Malang yang memiliki sejarah dan ikut menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kota Malang.(*)
