Apesnya Warga Villa Indah Tegal Besar Jember: Terjebak Banjir Tahunan, Menyesal Beli Rumah

Rumah di Seberang Bantaran Sungai, Desak Tanggung Jawab Pengembang

22 Januari 2026 09:40 22 Jan 2026 09:40

Thumbnail Apesnya Warga Villa Indah Tegal Besar Jember: Terjebak Banjir Tahunan, Menyesal Beli Rumah

Warga Perumahan Villa Indah Tegal Besar (VITB) Jember saat menyampaikan nasibnya yang kerap dilanda banjir. (Foto: Atta/ Ketik.com)

KETIK, JEMBER – Hati-hati dalam membeli rumah di perumahan. Seperti yang dialami warga Perumahan Villa Indah Tegal Besar (VITB) Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Mereka kembali menyuarakan keresahan akibat banjir yang terus mereka alami setiap musim hujan, sejak beberapa tahun terakhir.

Warga menilai kondisi lingkungan perumahan semakin membahayakan keselamatan dan tidak lagi layak dihuni. Hal ini terutama karena lokasinya yang berada di bantaran Sungai Bedadung.

Banjir pertama kali tercatat melanda kawasan tersebut pada 2018. Intensitas dan dampaknya terus meningkat pada 2021, hingga mencapai kondisi terparah pada awal 2025. Saat itu, sedikitnya 71 rumah terendam air dengan ketinggian bervariasi, memaksa sebagian warga mengungsi sementara.

Perwakilan warga, Ahmad Syaifudin, menyebut banjir terjadi akibat minimnya infrastruktur pengendali air hujan serta rusaknya pelengsengan sungai. Kondisi geografis perumahan yang terlalu dekat dengan sungai membuat luapan air sulit dihindari saat hujan deras.

"Warga meminta untuk dilakukan relokasi karena kami yakin banjir akan terus berulang. Letak perumahan yang berada di bantaran sungai menjadi faktor utama," ungkap pria yang akrab disapa Udin itu.

Menurut Udin, banjir tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga kerugian materiil yang besar. Setidaknya 52 rumah dilaporkan mengalami kerusakan sedang hingga berat akibat terendam air secara berulang.

Kondisi semakin memprihatinkan setelah tembok pembatas antara perumahan dan sungai ambrol. Di Blok E18, jarak antara rumah warga dengan bibir sungai kini hanya sekitar dua meter, meningkatkan risiko longsor dan tergerus arus sungai.

"Pelengsengan yang sudah ambrol membuat jarak sungai semakin dekat, dan drainase yang tidak memadai menyebabkan air hujan meluap hingga masuk ke saluran pembuangan rumah tangga, mengakibatkan banjir kecil-kecil yang sering terjadi," jelas Udin.

Sejumlah warga mengaku baru menyadari besarnya risiko setelah tembok penahan sungai rusak. Mereka menyebut saat membeli rumah, kondisi sungai masih tampak aman dan terlindungi.

"Saat pertama membeli rumah, kami tidak tahu kondisi sungai begitu dekat. Setelah tembok pembatas rusak, baru kami sadar bahwa kami tinggal di bantaran sungai," ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Meski warga mendesak relokasi, pihak pengembang, PT Sembilan Bintang, menyampaikan pandangan berbeda. Pengembang menyebut banjir tidak sepenuhnya disebabkan oleh pembangunan perumahan, melainkan juga dipengaruhi kondisi aliran sungai dari hulu.

Namun demikian, warga berharap pemerintah daerah dapat hadir sebagai penengah. Mereka meminta solusi jangka panjang yang menjamin keselamatan, baik melalui relokasi, pembangunan tanggul permanen, maupun perbaikan sistem drainase.

"Kami berharap pemerintah dan pengembang mendengarkan keluhan kami, agar perumahan ini bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk dihuni," pungkas Syaifudin. (*)

Tombol Google News

Tags:

Villa Indah Tegal Besar Perumahan VITB Jember PT Sembilan Bintang Agus Lutfi bantaran sungai perumahan bermasalah perumahan langganan banjir