KETIK, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur membeberkan data bahwa selama 2022 sampai 2025, bencana yang terjadi di wilayah setempat sebanyak 92 persen hingga 97 persen merupakan bencana hidrometeorologi.
Sekadar informasi, bencana hidrometerogi di antaranya meliputi banjir, tanah longsor, gempa bumi, kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kemudian di tahun 2026 sejak awal tahun hingga 31 Maret lalu, telah terjadi 121 kejadian bencana alam yang didominasi oleh angin kencang sebanyak 82 kejadian, kemudian banjir sebanyak 27 kejadian.
Bencana ini berdampak pada korban jiwa, kerusakan rumah serta puluhan ribu kepala keluarga terdampak, bahkan harus mengungsi ke lokasi lebih aman.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa data tersebut menunjukkan pada triwulan pertama tahun 2026 dinamika bencana terjadi cukup tinggi, terutama pada masa pancaroba.
Hal tersebut, kata dia, disebabkan perubahan iklim dan dinamika cuaca memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap kondisi kebencanaan di Jawa Timur.
"Sehingga ini harus menjadi perhatian serius bagi kita semua dan bersama melakukan antisipasi," ujarnya di sela Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Kemarau Panjang 2026 di Dyandra Convention Center Surabaya pada Selasa, 7 April 2026.
Gubernur Khofifah juga menegaskan bahwa perubahan iklim dan dinamika cuaca bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan realitas yang sedang dihadapi bersama saat ini.
"Maka respons kita tidak boleh biasa-biasa saja dan hanya reaktif, tetapi harus terukur, cepat serta berbasis data,"kata orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut.
Menurut dia, penanggulangan bencana harus dilakukan secara terpadu melalui analisis tingkat bahaya, kerentanan dan kapasitas daerah sebagaimana tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 53 Tahun 2023.
"Mari kita kuatkan sinergi, percepat langkah dan pastikan Jawa Timur tetap aman, tangguh serta produktif menghadapi musim kemarau tahun 2026," tutur mantan Menteri Sosial RI tersebut.
Sementara itu, turut hadir dalam rakor kali ini, yakni Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Afianto, Ketua DPRD Jatim Ahmad Musyafak Rouf, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang juga moderator rakor, Ketua Kelompok Staf Ahli (Kapoksahli) Kodam V/Brawijaya Brigjen TNI Singgih Pambudi Arianto.
Berikutnya, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB RI Raditya Jati, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan RI Thomas Nifinluri, Direktur Konservasi dan Pengembangan Sumber Air Pertanian Kementerian Pertanian RI Armansyah, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Surabaya Koordinator BMKG Jatim Taufiq Hermawan, serta Plh. Aspidum Kajati Jatim I Ketut Kasna Dedi. (*)
