KETIK, MALANG – Seorang ibu rumah tangga asal Malang, Rinda Puspasari, meluncurkan dua buku sekaligus dari genre yang berbeda. Peluncuran buku digelar di Cafe Mami Combi, Tlogomas, Kota Malang, Sabtu, 7 Februari 2026.
Dua karya tersebut menandai keberanian Rinda menghadirkan gagasan dari dua ruang kehidupan yang kerap terabaikan, yakni batin manusia dan relasi dengan alam.
Dalam peluncuran tersebut, Rinda memperkenalkan buku berjudul 'Di Bawah Langit yang Bukan Milikku' dan 'Koi-dari Kolam Kaisar ke Nusantara'.
Meski lahir dari pendekatan yang sangat berbeda, keduanya disebut keberanian dalam memotret pengalaman hidup manusia.
“Peluncuran ini sebenarnya bukan tentang dua buku, tetapi tentang keberanian menulis dari wilayah batin dan alam yang sering kita lupakan. Saya percaya, buku tidak cukup hanya diterbitkan, tetapi juga perlu ditemukan oleh pembacanya,” ujar Rinda.
Ia menjelaskan, kehadiran dua buku dalam satu waktu bukanlah bagian dari strategi penerbitan, melainkan proses alami dari dua gagasan yang muncul hampir bersamaan. Menurutnya, kedua suara tersebut sama-sama mendesak untuk disampaikan.
“Saya tidak pernah merencanakan meluncurkan dua buku sekaligus. Ini bukan strategi, tetapi dua suara yang lahir berdekatan dan sama-sama tidak ingin ditunda,” tuturnya.
Rinda memaparkan, Di Bawah Langit yang Bukan Milikku merupakan karya yang sangat personal. Buku bergenre memoar tersebut ditulis bukan untuk menjelaskan kehidupan, melainkan sebagai teman bagi proses hidup yang sedang ia jalani.
“Buku ini tidak ditulis untuk menggurui tentang hidup, tetapi untuk menemani hidup yang sedang saya alami. Ia lahir dari kesadaran, tanpa menjadikan luka sebagai identitas dan tanpa menjadikan pengalaman sebagai alat untuk menghakimi siapa pun,” jelasnya.
Sementara itu, buku Koi-dari Kolam Kaisar ke Nusantara hadir dari jalur yang berbeda. Karya tersebut berangkat dari riset lintas disiplin, mulai dari sejarah, biologi, budaya, hingga ekonomi, yang kemudian berkembang menjadi refleksi tentang relasi manusia dengan makhluk hidup lain.
“Dalam buku ini, koi saya hadirkan sebagai subjek, bukan objek. Ia adalah makhluk hidup yang bisa menjadi arsip peradaban dan mengingatkan kita bahwa manusia dapat belajar memahami dirinya melalui alam di sekitarnya,” katanya.
Menurut Rinda, perbedaan karakter kedua buku justru merepresentasikan kompleksitas pengalaman perempuan. Ia menilai perempuan tidak hidup dalam satu lapisan batin, melainkan berpikir dan memaknai hidup dari berbagai arah secara bersamaan.
“Perempuan tidak hidup dalam satu lapisan batin. Kita berpikir, merasakan, mengamati, dan memaknai hidup dari banyak arah sekaligus. Dua buku ini adalah cara saya menghormati konteks tersebut,” ujarnya.
Ia menegaskan, peluncuran dua buku tersebut bukan sekadar peristiwa literasi, melainkan penanda bahwa penulisan perempuan dapat berjalan berdampingan, saling bersinggungan, dan tetap terhubung meski lahir dari pendekatan yang berbeda.
“Bagi saya, ini bukan sekadar dua buku, tetapi penanda bahwa penulisan perempuan bisa berjalan paralel. Karena hidup memang tidak pernah satu jalur, ia selalu bergerak antara yang kita rasakan di dalam dan yang kita hadapi di luar,” katanya.
Rinda juga mengungkapkan latar belakangnya sebagai mantan dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di Universitas Brawijaya (UB) yang sempat dijalani selama sekitar dua setengah tahun.
Saat ini, ia memilih fokus sebagai ibu rumah tangga dan memanfaatkan waktu luang untuk menulis.
“Sekarang saya fokus mengurus anak. Menulis saya lakukan di sela-sela waktu luang,” pungkasnya. (*)
