KETIK, PACITAN – Alih-alih merasa senang, beberapa orang tua di Kabupaten Pacitan justru mengaku kecewa setelah melihat isi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) versi Ramadan yang dibawa pulang anak-anak mereka.
Jatah pagu anggaran sebesar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per porsi dipandang tidak sepadan dengan yang diterima.
Wali murid asal Kecamatan Pacitan, Yulis, menjadi salah satu yang menyuarakan kekecewaannya. Ia menilai menu yang diterima anaknya belum genap dengan nilai anggaran yang telah disosialisasikan.
“Menunya hari ini, tahu goreng dua potong, tempe satu potong, ayam goreng satu potong, terus sama satu roti,” katanya saat diwawancarai Ketik.com, Selasa, 3 Maret 2026.
Menurut Yulis, jika dengan alokasi bahan makanan sebesar Rp8 ribu sampai Rp10 ribu, menu tersebut harusnya dapat lebih.
Ia bahkan mengaku sampai mengukur ukuran tempe yang diterima anaknya untuk menghitung lebih detail.
“Ayamnya bagian tulang brutu. Tempe ukurannya 4 cm x 4 cm, saya ukur saking kecilnya. Dengan pembelian partai besar, ini totalnya hanya Rp6 ribu,” ujarnya penuh yakin.
Sejak Ramadan dimulai pada 23 Februari 2026, anaknya telah menerima berbagai variasi menu seperti telur, susu kemasan, kurma, apel, belimbing, roti, puding hingga abon ayam. Namun, menurutnya, semuanya belum sesuai.
“Setiap anak saya dapat MBG pasti saya foto. Dan tidak ada yang totalnya sampai Rp8 ribu sampai Rp10 ribu,” nilainya.
Ia juga menyinggung kualitas makanan sebelum Ramadan. Menurutnya, sempat ditemukan buah semangka yang tidak layak konsumsi serta nasi yang agak basi.
“Nggak dimakan sama sekali, cuma dibawa pulang sama anak saya,” tuturnya.
Selain isi makanan, waktu distribusi juga menjadi perhatian. Paket yang dijadwalkan tiba pukul 09.00 WIB disebut kerap datang terlambat.
“Akhirnya molor sampai satu jam lebih,” ungkapnya.
Menu MBG yang diterima siswa di Pacitan. (Foto: Dok. Ketik.com)
Keluhan serupa juga disampaikan wali murid dari Kecamatan Kebonagung, Anis Muarifah.
Ia mengaku terkejut saat anaknya hanya membawa satu buah belimbing dan abon kering dalam wadah kecil.
“Kaget lihatnya. Kok isinya cuma ini. Ya itu kurang kalau dibilang makanan bergizi,” katanya.
Anis berharap program MBG benar-benar mampu memenuhi kebutuhan gizi anak sesuai tujuan awal pelaksanaannya.
“Ya harapannya sesuai dengan tujuan awalnya untuk memperbaiki gizi, sesuai kampanye Pak Presiden Prabowo,” ujarnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Koordinator Wilayah SPPG, Listiana Asworo, saat dikonfirmasi memberikan respons singkat melalui pesan tertulis.
“Nggih. Mohon maaf akan kami evaluasi terus nggih,” tulisnya.
Sebagai informasi, berdasarkan flyer yang disebar SPPG di Pacitan, skema anggaran MBG ditetapkan sebesar Rp15 ribu per porsi. Namun, dana tersebut tidak seluruhnya dialokasikan untuk bahan makanan.
Dari total Rp15 ribu, sebesar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu digunakan untuk bahan makanan dan pemenuhan gizi penerima manfaat.
Sementara Rp3 ribu dialokasikan untuk operasional dapur seperti gaji karyawan, listrik, dan gas, serta Rp2 ribu untuk sewa tempat, peremajaan alat masak, dan fasilitas pendukung lainnya.
“Rp15 ribu bukan untuk makanan saja,” tulis keterangan dalam flyer tersebut.
Program MBG menyasar balita, siswa SD hingga SMA, ibu hamil, serta ibu menyusui. (*)
