Menikmati Hangatnya Olahan Ketela Kawi dan Kentang Lokal di Tengah Dinginnya Perbatasan Malang-Batu ala Burning Bar

31 Januari 2026 10:05 31 Jan 2026 10:05

Thumbnail Menikmati Hangatnya Olahan Ketela Kawi dan Kentang Lokal di Tengah Dinginnya Perbatasan Malang-Batu ala Burning Bar

Burning Bar, kafe berkonsep sederhana dengan view alam yang memanjakan mata. (Foto: Fisca/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Di tengah menjamurnya kafe berkonsep alam di kawasan Batu dan sekitarnya, pilihan tempat nongkrong dengan konsep sederhana tetap punya daya tarik tersendiri. 

Mengandalkan pemandangan pegunungan, suasana santai, serta lokasi strategis di perbatasan Malang dan Kota Batu, kafe ini hadir sebagai alternatif bagi pengunjung yang ingin menikmati waktu bersantai tanpa konsep yang berlebihan. Kafe ini dikenal dengan nama Burning Bar.

Kafe ini berlokasi di jalan Gunung Banyak, Jurangrejo, Songgokerto, Kecamatan Pujon, Kota Batu.

Pencetus Burning Bar, Bambang Harianto, menjelaskan bahwa lokasi ini awalnya bukanlah kafe. Tempat tersebut sebelumnya dikenal sebagai Romantic Camp, sebuah area berkemah dengan sejumlah kabin kecil. 

Namun, seiring berjalannya waktu, konsep tersebut dinilai kurang sesuai dengan pasar.

“Awalnya ini Romantic Camp, tempat camping dengan kabin-kabin kecil. Tapi karena pasarnya kurang, akhirnya kami bertemu dengan anak-anak muda yang punya konsep bikin Burning Bar,” ujar Bambang.

Foto Pemandangan di area Burning Bar yang terdapat mini camp. (Foto: Fisca/Ketik.com)Pemandangan di area Burning Bar yang terdapat mini camp. (Foto: Fisca/Ketik.com)

Nama Burning Bar ternyata memiliki cerita unik di baliknya. Kata Bar bukan sekadar merujuk pada tempat minum, melainkan merupakan akronim dari nama para pendirinya.

“BAR itu dari nama pendirinya. ‘B’ itu Satrio, panggilannya Bangsat. ‘A’ itu Abyong, dia juara satu MasterChef Malang. Lalu ‘R’ itu Reklinov, anak yang sempat DO tapi sekarang jadi petani,” jelas Bambang.

Sementara itu, kata Burning muncul secara alami dari aktivitas yang terjadi di lokasi tersebut.

“Waktu mereka main ke sini, kita sedang bongkar-bongkar dan membakar sisa-sisa yang sudah tidak digunakan. Dari kata BAR dan bakar itu akhirnya ketemu nama Burning Bar,” lanjutnya.

Perpaduan cerita personal dan situasi alamiah inilah yang kemudian membentuk identitas Burning Bar seperti sekarang.

Berbeda dengan kebanyakan kafe yang menawarkan puluhan pilihan menu, Burning Bar justru membatasi sajian makanannya. Konsep ini sengaja diambil untuk menonjolkan kesederhanaan dan kekhasan lokal.

“Konsep makanan di sini simpel. Kita angkat Malang dan Batu. Menu makanan cuma tiga,” kata Bondan.

Foto Olahan ketela Kawi dan kentang Batu yang siap memanjakan lidah. (Foto: Fisca/Ketik.com)Olahan ketela Kawi dan kentang Batu yang siap memanjakan lidah. (Foto: Fisca/Ketik.com)

Tiga menu utama tersebut adalah ketela Kawi sebagai representasi produk lokal Malang, kentang lokal Batu, serta pisang. Selain itu, tersedia masing-masing tiga pilihan minuman dingin dan tiga minuman panas.

“Kita memang tidak mau ribet di makanan. Fokusnya bukan di situ,” imbuhnya.

Pendekatan ini sejalan dengan tren kuliner saat ini yang mulai mengapresiasi bahan lokal dan kesederhanaan rasa, tanpa perlu banyak olahan kompleks.

Meski menu yang ditawarkan terbilang minimalis, Burning Bar memiliki nilai jual utama yang sulit ditandingi, yakni view alam dan suasana.

“Kalau point of interest sebenarnya lebih ke view dan vibes. Makanannya kita ambil yang paling simpel,” ungkap Bambang.

Dari lokasi ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan dari dua arah sekaligus. Ke arah barat, terlihat wilayah Kabupaten Malang, khususnya kawasan Pujon. Sementara ke arah timur, terbentang panorama Kota Batu.

“Lokasinya ini pas di perbatasan Malang dan Batu,” jelasnya.

Kondisi geografis tersebut menjadikan Burning Bar sebagai tempat ideal untuk menikmati sore hingga malam hari dengan suasana alam terbuka.

Dari sisi harga, Burning Bar juga tergolong ramah di kantong. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk untuk menikmati area dan pemandangan.

“Di sini tidak ada tiket masuk,” tegas Bondan.

Sementara itu, harga makanan dan minuman dibanderol mulai dari Rp15.000 hingga sekitar Rp40.000. Rentang harga ini dinilai sepadan dengan pengalaman menikmati alam dan suasana yang ditawarkan.

Tidak hanya menjadi tempat nongkrong, Burning Bar juga berkembang sebagai ruang berkumpul komunitas. Salah satu kegiatan rutin yang dijalankan adalah aktivitas lari dan jalan menikmati alam yang diwadahi dalam komunitas bernama Barbarian.

“Barbarian itu kumpulan teman-teman dari lintas profesi. Ada seniman, pegawai, pengusaha, sampai pelajar,” terang Bondan.

Kegiatan ini bersifat terbuka dan dapat diikuti oleh masyarakat umum.

“Kalau warga mau ikut, boleh-boleh saja,” katanya.

Aktivitas tersebut dijadwalkan setiap hari Jumat setelah salat Jumat, dengan rute tracking yang fleksibel.

“Lokasi tracking-nya bebas ke mana pun, tapi selama ini masih di sekitar Kabupaten Malang dan Batu,” tambahnya.

Jarak tempuh yang dilalui pun relatif ringan, yakni sekitar tiga hingga lima kilometer, sehingga cocok diikuti oleh berbagai kalangan.

Bagi pengunjung yang ingin datang, Burning Bar buka setiap hari mulai pukul 13.00 hingga 22.00 WIB. Waktu operasional ini memungkinkan pengunjung menikmati suasana siang, senja, hingga malam hari.

Dengan konsep sederhana, menu lokal, pemandangan dua wilayah, serta aktivitas komunitas yang inklusif, Burning Bar menawarkan pengalaman berbeda dari sekadar kafe pada umumnya. 

Tempat ini menjadi pilihan bagi mereka yang ingin rehat sejenak dari hiruk-pikuk kota dan menikmati alam dengan cara yang lebih santai. (*)

Tombol Google News

Tags:

Burning Bar kafe burning bar barbarian Kota Batu wisata batu kafe di kota batu Gunung Banyak Pujon rekomendasi kafe di kota batu ketela kawi kentang batu