KETIK, MALANG – Peringatan Haul ke-16 Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, menjadi momentum refleksi atas berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa. Mulai dari krisis ekologi, kondisi ekonomi yang belum stabil, hingga dinamika politik dalam negeri menjadi sorotan dalam peringatan yang digelar di Kota Malang.
Kegiatan Haul Gus Dur tersebut berlangsung di Gazebo Raden Wijaya Universitas Brawijaya (UB), Kamis, 5 Maret 2026. Mengusung tema “Marilah Mendoa Indonesia Bahagia”, acara ini mengajak masyarakat kembali mengingat nilai-nilai perjuangan Gus Dur, seperti keadilan, pembebasan, serta kearifan tradisi.
Membincang sosok Gus Dur memang tidak bisa dilepaskan dari semangat persaudaraan lintas iman. Selama hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan toleransi dan kemanusiaan tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya.
Dalam sambutannya, Khanifah Asadiyah menyampaikan bahwa peringatan Haul Gus Dur tahun ini berangkat dari keresahan atas berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia. Ia menyinggung sejumlah persoalan seperti bencana alam, krisis lingkungan, hingga isu toleransi yang masih menjadi tantangan bersama.
Sebelum acara puncak digelar, komunitas Garuda Malang (GUSDURian Muda Kota Malang) juga melakukan kegiatan dialog lintas iman dengan mengunjungi beberapa rumah ibadah di Kota Malang.
“Maka, sebelum haul ini diselenggarakan, Garuda Malang (GUSDURian Muda Kota Malang) mengunjungi GKI Bromo dan Vihara Dharma Mitra Arama. Kita berdialog tentang puasa dalam perspektif lintas agama. Semoga bisa menjadi gerakan bersama yang konsisten,” ujar guru dari salah satu sekolah Ma’arif di Batu ini.
Selain membahas isu toleransi, Khanifah juga mengajak para peserta untuk meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan. Ia menilai bahwa krisis ekologis yang terjadi saat ini membutuhkan gerakan bersama lintas komunitas dan agama.
Kesadaran ekologi, menurutnya, perlu diwujudkan dalam aksi nyata melalui gerakan kolektif yang ia sebut sebagai jihad ekologi. Semangat tersebut sejalan dengan ajaran berbagai agama yang menekankan pentingnya menjaga alam dan mencintai lingkungan.
Haul Gus Dur ke-16 ini juga mendapat dukungan dari Universitas Brawijaya melalui kerja sama dengan UPT Pengembangan Kepribadian dan Kepemimpinan (PKPK). Kepala UPT PKPK UB, Dr. Mohamad Anas, M.Phil, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan lintas komunitas tersebut.
“Saya senang dikunjungi saudara-saudari dari lintas agama, budaya, dan komunitas. Semoga kita semua bisa belajar banyak dari Gus Dur. Kami sangat senang misalkan mau ditempati lagi buat acara progresif seperti ini,” tambah Anas, akademisi UB itu.
Sebelum memasuki sesi dialog kebangsaan, acara terlebih dahulu diisi dengan berbagai penampilan seni. Sejumlah penampil seperti Mamang, Kak Fey, dan Raza menghadirkan musik akustik serta musikalisasi puisi yang mengangkat tema persaudaraan dan keindonesiaan.
Suasana kebersamaan semakin terasa ketika lantunan lagu-lagu kebangsaan dan persaudaraan mengalun di lokasi acara. Tak ketinggalan, penampilan kasidah dari rekan-rekan IPNU dan IPPNU turut meramaikan kegiatan tersebut.
Sesi dialog kebangsaan kemudian dipandu oleh Adiba Sofinadya. Dalam diskusi tersebut hadir dua narasumber, yakni Dr. Mohamad Mahpur, M.Si dan Uun Triya Tribuce, S.Pd., M.Sos.
Keduanya menyoroti pentingnya memperkuat toleransi dan kerukunan antar umat beragama di tengah masyarakat yang semakin beragam. Menurut mereka, toleransi tidak cukup hanya menjadi konsep, tetapi harus diwujudkan melalui perjumpaan, dialog, serta kerja sama nyata antar komunitas.
Para narasumber juga menilai bahwa pemerintah perlu mengambil peran lebih aktif dalam memastikan kebijakan yang inklusif bagi seluruh kelompok masyarakat. Dengan demikian, potensi diskriminasi dan sikap intoleran dapat diminimalkan.
Diskusi tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi untuk kembali mengingat pesan-pesan kemanusiaan yang selama ini diwariskan Gus Dur. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan untuk menjawab berbagai tantangan bangsa di masa kini.
Menjelang waktu berbuka puasa, suasana acara semakin khidmat ketika suara azan mulai berkumandang dari masjid-masjid sekitar kampus. Momen tersebut menandai berakhirnya rangkaian kegiatan Haul Gus Dur ke-16 di Universitas Brawijaya.
Sebagai penutup, para tokoh dari berbagai agama memimpin doa lintas iman. Perwakilan dari agama Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Islam, hingga Baha'i bersama-sama memanjatkan doa untuk mendiang Gus Dur serta mendoakan Indonesia agar tetap damai, rukun, dan bahagia.
Melalui peringatan ini, nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur kembali dihidupkan, menjaga persaudaraan, merawat toleransi, serta bersama-sama merawat bumi sebagai rumah bersama. (*)
