KETIK, JAKARTA – Grup musik elektronik asal Belanda, Yellow Claw, merilis video terbaru berjudul The Interstellar Trap Mix 2026 di kanal YouTube mereka pada 3 Maret 2026. Video tersebut langsung menarik perhatian karena menampilkan konsep visual bertema luar angkasa dengan latar lanskap yang tidak biasa.
Dalam video itu, terlihat sosok astronot berjalan di permukaan sebuah planet tandus yang digambarkan berada di luar angkasa. Namun siapa sangka, lokasi yang digunakan sebenarnya adalah Gunung Bromo di Jawa Timur.
Melalui pengambilan gambar sinematik serta lanskap khasnya, kawasan wisata tersebut diolah seolah-olah menjadi sebuah planet asing di galaksi lain.
Hamparan pasir luas, kawah gunung, hingga kabut tipis yang kerap menyelimuti kawasan Bromo memberikan kesan dramatis. Lanskap tersebut memperkuat nuansa dunia yang sunyi dan asing, seakan membawa penonton menjelajahi sebuah planet di luar angkasa.
Konsep visual ini dipadukan dengan musik trap khas Yellow Claw yang enerjik. Perpaduan antara musik elektronik dan eksplorasi kosmik itu menghadirkan pengalaman visual yang terasa imersif bagi penonton.
Sebelum merilis video lengkapnya, Yellow Claw lebih dulu membagikan sejumlah teaser melalui akun Instagram resmi mereka, @yellowclaw. Unggahan tersebut memperlihatkan beberapa potongan adegan dari proses pengambilan gambar yang dilakukan di kawasan Gunung Bromo.
Pada teaser pertama, terlihat kedua produser rekaman itu berada di sebuah gurun dengan latar belakang gunung. Mereka tampil mengenakan pakaian astronot lengkap dengan logo NASA di bagian dada sebelah kanan.
Tidak hanya itu, dalam video singkat tersebut juga terlihat sebuah meja DJ yang ditempatkan di tengah hamparan pasir. Konsep tersebut semakin menegaskan tema luar angkasa yang diusung dalam proyek musik terbaru mereka.
Unggahan lainnya juga memperlihatkan momen ketika keduanya duduk di bagian belakang mobil bak terbuka. Dalam video itu, mereka tampak berkeliling di area Gunung Bromo sambil menikmati pemandangan sekitar yang luas dan eksotis.
Teaser tersebut menjadi petunjuk awal mengenai konsep visual yang diusung dalam The Interstellar Trap Mix 2026. Tidak sedikit penggemar yang kemudian menantikan perilisan video lengkapnya di YouTube.
Pemilihan Gunung Bromo sebagai lokasi pengambilan gambar pun langsung menarik perhatian warganet, terutama dari Indonesia. Banyak yang merasa bangga karena salah satu destinasi wisata paling terkenal di Tanah Air itu dijadikan latar untuk video musik internasional.
Kolom komentar di unggahan Instagram Yellow Claw dipenuhi berbagai respons dari warganet yang menyadari lokasi tersebut.
“Epic beats with the stunning backdrop of Mount Bromo, Indonesia. Respect,” tulis akun @wonder***.
Komentar lain juga datang dari pengguna yang dengan antusias menyebut nama lokasi tersebut.
“BROMO INDONESIA,” tulis akun @ibrah***.
Sementara itu, warganet lainnya juga menegaskan lokasi pengambilan gambar dalam video tersebut.
“this is BROMO,” tulis akun @vtsi***.
Ucapan apresiasi juga disampaikan oleh sejumlah pengguna Instagram yang merasa bangga karena keindahan alam Indonesia mendapat sorotan internasional.
“Terima kasih. All the best,” tulis akun @bastia***.
Ada pula komentar singkat dari warganet yang memuji konsep video tersebut.
“Keren keren,” tulis akun @robby***.
Gunung Bromo memang dikenal memiliki lanskap yang unik dan ikonik. Hamparan pasir luas yang dikenal sebagai lautan pasir, kawah aktif, serta kabut tipis yang sering muncul pada pagi hari menciptakan suasana dramatis.
Kondisi alam tersebut membuat kawasan Bromo kerap digunakan sebagai lokasi fotografi, film, hingga produksi video musik. Dengan teknik pengambilan gambar yang tepat, lanskapnya dapat menghadirkan kesan seperti dunia lain.
Hal itulah yang tampaknya dimanfaatkan Yellow Claw dalam proyek terbaru mereka. Dengan memadukan visual alam yang eksotis dan konsep luar angkasa, Gunung Bromo berhasil disulap menjadi sebuah planet tandus yang misterius.
Pendekatan visual tersebut juga membuat video The Interstellar Trap Mix 2026 terasa berbeda dari video musik elektronik pada umumnya. Tidak hanya menyuguhkan musik, tetapi juga menghadirkan pengalaman visual yang kuat. (*)
