KETIK, SURABAYA – Tahun Baru Imlek 2577 yang jatuh pada 17 Februari 2026 tinggal menghitung hari. Sejumlah persiapan telah dilakukan oleh para pengurus kelenteng untuk menyambut hari raya tersebut, salah satunya adalah tradisi mencuci rupang atau patung dewa.
Kegiatan ini salah satunya berlangsung di Kelenteng Hong San Koo Tee, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Kelenteng Cokro, berlokasi di kawasan Tegalsari, Surabaya.
Pengurus kelenteng, Robertus, menjelaskan makna mendalam di balik prosesi pembersihan rupang tersebut.
"Kalau secara tradisi, kami membersihkan supaya kelihatan terang semua. Anggapannya bahwa di tahun yang baru ini semua bersih terus, rezeki bisa masuk banyak," katanya, Sabtu, 14 Februari 2026.
Prosesi pembersihan ini dilakukan tepat seminggu sebelum perayaan Tahun Baru Imlek. Pemilihan waktu tujuh hari menjelang hari H ini bukan tanpa alasan. Robertus menceritakan bahwa pada waktu tersebut, para dewa diyakini sedang meninggalkan rupang untuk naik ke langit guna melaporkan segala perbuatan manusia, khususnya umat Buddha.
"Saat rupang kosong. Mereka (dewa) sudah naik ke atas untuk melaporkan semuanya. Nah, maka itu kami bisa bersih-bersih karena biasanya kami tidak boleh bersih-bersih dulu selama satu tahun," ungkapnya.
Selama proses pencucian, Robertus menjelaskan bahwa tidak ada aturan baku mengenai teknis pembersihan. Semua rupang, mulai dari ukuran besar hingga yang terkecil, dibersihkan.
Menariknya, Robertus menyebutkan bahwa siapa pun diperbolehkan terlibat bersih-bersih ini tanpa memandang latar belakang agama. Syarat utamanya hanyalah ketelitian dan kehati-hatian.
"Tapi kami tidak minta bantuan orang luar (kelenteng), karena mereka tidak paham dan tidak terbiasa. Karena kalau ada yang pecah, rupang itu harus segera dibuang," tegasnya. (*)
