KETIK, MALANG – Di balik tembok tinggi Lapas Kelas I Lowokwaru Kota Malang, kisah inspiratif hadir melalui pengabdian Umar Faruq yang secara konsisten mengajarkan mengaji kepada warga binaan.
Melalui kegiatan pembinaan rohani tersebut, ia tak hanya mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur'an, tetapi juga menanamkan harapan baru serta semangat memperbaiki diri bagi para narapidana selama menjalani masa pembinaan.
Umar Faruq mulai mengajar mengaji di Lapas Kelas I Lowokwaru Kota Malang pada 2017. Uniknya, pada lapas tersebut terdapat pondok pesantren bernama At Taubah yang menampung 600 warga binaan dari kapasitas penghuni lapas 2500 orang.
Pada program pondok pesantren ini, warga binaan akan diajarkan mengaji Al-Qur'an dengan materi Tartil, Tahsin, dan Tahfidz menggunakan metode Ummi dan di setiap tahun akan ada wisuda bagi santri PP. At Taubah yang telah lulus sertifikasi pengajar Al-Qur'an dan santri penghafal beberapa juz.
"Qur'annya pakai metode ummi sampai sekarang. Sampai ada wisuda. Jadi wisuda, wisuda ummi, metode ummi itu kan ada wisudanya," ungkap Umar Faruq
"Wisuda itu untuk sertifikasi, agar mereka bisa mengajar di kampung halaman mereka," imbuhnya.
Tak hanya itu, mereka juga diajarkan beberapa kajian matan kitab fiqih dasar seperti Mabadi' Fiqhiyyah dan Wahiyyatul Musthofa, serta menghafal Nadzam Aqidatul Awam.
"Mereka cerita, saya mau tahu Pak. Karena tiap hari kita ajak dzikir. Kita ajak baca Nadzam Aqidatul Awam. Padahal dulu tidak kenal Aqidatul Awam mereka. Kita ajak Wahiyyatul Musthofa, Alala," jelas pria kelahiran 5 Agustus 1978.
Suasana mengaji yang diajarkan oleh Umar Faruq di Lapas I Lowokwaru Kota Malang. (Foto: Dok. Ketik.com)
Dari beberapa tahun mengajar mengaji di Lapas I Lowokwaru Kota Malang, Umar Faruq ada perubahan perilaku positif yang signifikan pada warga binaan, ia memperbaiki para napi melalui sentuhan rohani keagamaan.
Harapan terbesar setelah keluar dari lapas, mereka bisa menjadi lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Umar Faruq juga mengatakan bahwa selama ini mereka yang dianggap sampah masyarakat, pasca mengikuti program pembinaan di PP At Taubah, mereka akan menjadi sampah yang telah didaur ulang dan menjadi lebih berharga.
"Menariknya lapas itu, setelah mereka keluar itu, banyak yang jadi guru ngaji, jadi kalau kita bahasa kita itu, mereka itu sampah masyarakat yang didaur ulang," tuturnya.
Umar Faruq juga mendengarkan beberapa curahan hati dari para napi yang juga menjadi santri. Sehingga, terbentuknya kedekatan lahir batin antaranya dengan para santri.
Tak hanya itu, ia juga menceritakan bahwa beberapa napi yang sudah keluar penjara masih menjalin komunikasi secara intens.
Umar Faruq juga bercerita bahwa ada santri datang ke rumahnya. dulunya, santri tersebut adalah narapidana yang tubuhnya penuh dengan tato. Kini, mantan napi tersebut sudah menjadi guru mengaji di kampungnya dan jumlah santrinya mencapai seratus anak.
Dalam hal ini, Umar Faruq memberi nasehat bahwa ternyata jalan awal para napi adalah bentuk teguran dari Allah yang ingin mereka kembali untuk menjadi orang baik dan bisa terus berada di jalan-Nya.
"Dari kisah-kisah itu yang asalnya perampok seperti tadi., terus kemudian pulang jadi ustad. Kan menarik itu, saya bilang begini, ini cara Allah, bentuk kasih sayang Allah, kepada kita itu begitu," pesan Umar Faruq.
"Seandainya kalian ini di luar terus. Belum tentu ngaji, belum tentu ngaji. Akhirnya oleh Allah ditegur, misalnya dia lagi kejahatan apa, kemudian ditegur, taruh di lapas, akhirnya ngaji," tambahnya.
Dari pengalamannya mengajarkan mengaji di Lapas, Umar Faruq berharap agar para napi ini bisa keluar dari penjara dan menjadi lebih bermanfaat di masyarakat. Dengan awalnya tidak bisa mengaji hingga bisa menjadi guru mengaji.
"Mereka adalah sampah masyarakat yang akan bernilai harganya ketika didaur ulang, jadi mereka yang asalnya tidak bisa ngaji akhirnya mengenal Al-Quran, mereka yang tidak kenal Nadzam Aqidatul Awam, akhirnya bisa Nadzam Aqidatul Awam, mereka yang gak paham fiqih jadi mengerti fiqih," ujar Umar Faruq penuh harapan.
"Artinya harapan kita itu, mereka yang tinggal di lapas ketika sudah keluar menjadi lebih bermanfaat di masyarakat, lebih bermanfaat, kalaupun tidak bisa ngaji," imbuhnya.(*)
