Oleh: Aan Aliyudin
KH. Abbas Djamil Buntet lahir pada Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 1879 M di Desa Pekalangan, Cirebon. Merupakan putra sulung KH. Abdul Jamil.
Berdasarkan jalur nasab dari sang ayah, KH Abbas merupakan turunan dari KH. Muta’ad yang tak lain adalah menantu pendiri Pesantren Buntet, yakni Mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon.
Jika ditelusuri ke atas, Kiai Abbas adalah keturunan KH Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati), salah seorang anggota Wali Songo, sekaligus pendiri Keraton Kasepuhan Cirebon.
Kiai Abbas menikah pertama kali menikah dengan Nyi Chodifah. Setelah istri pertamanya wafat, kemudian menikah lagi dengan Nyi I’anah. Dari kedua istrinya, kelak lahir para Kiai penerus Pesantren Buntet Cirebon, yaitu Kiai Mustahdi Abbas, Kiai Mustamid Abbas, Kiai Abdullah Abbas, dan Kiai Nahduddin Abbas.
Kiai Abbas wafat di rumahnya pada 1 Rabi’ul Awal 1365 H/1946 M. Hingga akhir hayatnya, Kiai Abbas merupakan ulama yang aktif dalam pergerakan nasional, baik di bidang sosial, politik, dan keagamaan. Ia dimamamkan di pemakaman Gajah Ngambung, komplek Pondok Buntet Pesantren.
Riwayat Pendidikan
Pada masa kanak-kanak, Kiai Abbas belajar kepada ayahnya sendiri, terutama belajar pengetahuan dasar ilmu agama. Ayahnya sangat memperhatikan pendidikan anaknya, sehingga beberapa kiai juga didatangkan untuk memberikan pelajaran kepada anaknya. Menjelang dewasa, Kiai Abbas nyantri kepada Kiai Nasuha dan Kiai Hasan, masih di sekitaran Plered, Cirebon.
Pengalaman pertamanya mondok di luar Cirebon, yaitu di Pesantren Giren, Tegal, Jawa Tengah untuk belajar ilmu tauhid kepada Kiai Ubaedah. Dari Tegal, kemudian meneruskan mondoknya di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Di Tebuireng, Kiai Abbas berguru langsung kepada Hadratus Syekh Kyai Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Kiai Hasyim sendiri adalah murid kesayangan Syekh Mahfudzh Al-Tarmisi dari Termas (Jawa Timur), seorang ulama Indonesia pertama yang mengajarkan kitab hadits Shahih Bukhari di Mekkah (Bustami, 2015).
Bakat sebagai pemimpin, ahli strategi dan watak periang Kiai Abbas sudah terlihat dalam dirinya semenjak belajar di pesantren. Ketika nyantri di Tebuireng, pada saat itu Pesantren Tebuireng sering diganggu oleh musuh, terutama berandal-berandal lokal di sekitar Pabrik Gula Cukir. Bersama-sama dengan santri-santri lainnya, Kiai Abbas berhasil membantu Kiai Hasyim Asy’ari melawan dan mengalahkan para bandit-bandit lokal tersebut dengan ilmu kanuragan.
Kiai Abbas meneruskan pendidikannya di Mekkah. Pada saat menunaikan ibadah haji, ia tidak langsung pulang ke Tanah Air, tetapi berguru kepada para ulama di Timur Tengah.
Selama beberapa tahun ia tinggal di rumah Syekh Ahmad Zubaidi di Mekkah dan berguru kepada sejumlah guru. Di antaranya adalah Syekh Mahfudzh Al-Tirmisi. Syekh Mahfudzh diakui sebagai pemegang sanad hadits Bukhari urutan ke-23 yang mendapatkan ijazah dari gurunya, yakni Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatta.
Lebih lanjut, Syekh Mahfudzh memberikan ijazahnya kepada Kiai Hasyim sebagai mata rantai ke-24 yang berhak mengajarkan hadits Bukhari kepada santri dan muridnya. Selain belajar ilmu hadits, di Mekkah, Kyai Abbas belajar ilmu qira’at al-Qur’an, dan ilmu tafsir. (Bustami, 2015).
Berbagai Kiprah
1. Madrasah Wathoniyah
Pada tahun 1928, Kiai Abbas mendirikan sekolah gerakan Pendidikan Hubbul Wathon (Cinta Tanah Air) di lingkungan Buntet Pesantren yang diberi nama Madrasah Wathoniyah. Gedung madrasah ini sampai sekarang masih ada dan masih digunakan sebagai sarana pendidikan.
2. Penyebar Tarekat
Selain sebagai sesepuh pondok, Kiai Abbas juga mewarisi Mursyid Tarekat Syattariyah dari ayahnya yang bersambung sampai Mbah Muqayyim (pendiri Pondok Buntet Pesantren). Selain Mursyid Tarekat Syattariyah, Kiai Abbas juga merupakan Muqaddam Tarekat Tijaniyah. Kyai Abbas diangkat menjadi Muqaddam Tarekat Tijaniyah oleh Syekh Ali Thayyib.
3. Pencak Silat
Pada masa-masa awal berdirinya, di Pondok Buntet Pesantren sudah banyak yang menguasai ilmu bela diri silat. Di Pondok Buntet Pesantren, ada kelompok para pembantu kiai yang disebut kelompok Magersari. Kelompok ini di antaranya adalah melatih pencak silat kepada para santri. Sampai sekarang, kelompok Magersari inilah yang memiliki Ilmu Cimande di Pondok Buntet Pesantren ini.
Kiai Abbas diajari Pencak Silat oleh ayahnya sendiri. Ayahnya bahkan mendatangkan para guru silat untuk mengajari anaknya tersebut. Kemahiran Kiai Abbas dalam Pencak Silat sangat terkenal, bahkan ia mampu menciptakan jurus-jurus pencak silat sendiri dengan menggabungkan jurus-jurus pencak silat yang ada di Nusantara.
4. Hizbullah dan Asybal
Di bidang kenegaraan, Kiai Abbas adalah salah satu pendiri Laskar Hizbullah. Laskar Hizbullah adalah organisasi militer Islam di bawah binaan Masyumi yang dibentuk pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, tepatnya tahun 1944.
Pasukan ini terdiri dari para pemuda muslim yang direkrut dan dilatih oleh Jepang, dengan tujuan awal untuk membantu Jepang mempertahankan Asia dari serangan Sekutu.
Namun, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Laskar Hizbullah justru menjadi salah satu kekuatan penting yang berjuang melawan penjajah Belanda dan sekutunya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, di antaranya terlibat dalam perang 10 November 1945 di Surabaya.
Di Pondok Buntet Pesantren, Kiai Abbas membentuk Asybal. Sebuah organisasi anak-anak yang berusia di bawah 17 tahun yang bertugas sebagai penghubung antar kesatuan, dan mengawasi jalan-jalan yang mungkin dilalui oleh musuh untuk memberikan informasi yang diperlukan oleh pasukan.
Resolusi Jihad dan Pertempuran 10 November
Saat Kiai Hasyim Asy’ari bersama para ulama NU mengeluarkan Resolusi Jihad (22 Oktober 1945), Kiai Abbas termasuk ulama yang langsung mendukung dan menyebarkan fatwa jihad itu ke Jawa Barat, khususnya Cirebon.
Fatwa jihad tidak akan besar pengaruhnya tanpa disebarkan oleh para ulama daerah. Kiai Abbas berperan menyampaikan fatwa itu melalui pengajian, khutbah, dan pengajaran santri, sehingga masyarakat tahu bahwa melawan penjajah adalah fardhu ‘ain (wajib bagi setiap muslim).
Sebagai tindak lanjut Resolusi Jihad, Kiai Abbas mendirikan dan melatih Laskar Hizbullah dan Sabilillah di Cirebon. Santri dan pemuda dididik bukan hanya secara agama, tetapi juga disiapkan fisik dan mental untuk perang.
Kiai Abbas menjadikan Pesantren Buntet sebagai basis perlawanan jihad. Dari sinilah lahir banyak pejuang yang kemudian dikirim untuk membantu pertempuran, termasuk ke Surabaya pada 10 November 1945.
Hubungan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dengan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya sangat erat. Sebab Resolusi Jihad menjadi pemicu semangat dan legitimasi religius bagi rakyat untuk melawan tentara Sekutu dan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.
Resolusi Jihad adalah landasan spiritual dan ideologis yang langsung memengaruhi pecahnya pertempuran 10 November 1945. Tanpa Resolusi Jihad, perlawanan rakyat Surabaya mungkin tidak sekuat dan seberani itu. Karena itulah, peristiwa 10 November disebut juga sebagai buah dari Resolusi Jihad.
Ketika semua pasukan Hizbullah-Sabilillah sedang bersiap-siap mengadakan perlawanan di Surabaya, Kiai Hasyim berkata “Kita tunggu dulu Macan dari Cirebon”. Kiai Hasyim menjuluki Kyai Abbas dengan Macan dari Cirebon karena keberaniannya dalam pertempuran.
Setelah Kiai Abbas beserta pasukan yang beliau bawa dari Jawa Barat tiba, barulah Kiai Hasyim merestui dimulainya pertempuran dengan dipimpin oleh Kiai Abbas. Bersama yang lain, Kiai Abbas merancang strategi perang gerilya dan membakar semangat jihad di kalangan pejuang. Sebagai ulama dan mursyid tarekat, KH. Abbas juga memberi dukungan spiritual: doa, wirid, dan zikir untuk memperkuat mental para pejuang.
Masagi
Kata “masagi” berasal dari bahasa Sunda. Secara harfiah, masagi berarti sempurna, utuh, atau paripurna. Dalam budaya Sunda, istilah ini mengandung makna keseimbangan. Seorang yang masagi adalah orang yang matang lahir dan batin, tidak timpang antara ilmu, akhlak, spiritualitas, dan keterampilan hidup.
Dalam filsafat Sunda dikenal konsep “manusa masagi”, yaitu manusia yang seimbang dalam empat sisi kehidupannya, yaitu sisi cipta (akal, pengetahuan), rasa (emosi, seni, kepekaan), karsa (kemauan, tekad), dan raga (fisik, kesehatan). Jadi, masagi tidak sekadar “sempurna” secara fisik, tapi lebih pada kesempurnaan hidup yang harmonis dan seimbang.
Jika kita melihat latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, kiprahnya dalam masyarakat, serta keluasan ilmu dan pengalamannya, maka bisa dikatakan Kiai Abbas adalah contoh manusia yang masagi. Ilmu agamanya meliputi hampir semua cabang-cabang ilmu yang penting. Disamping itu, pengalamannya dalam mengabdi kepada masyarakat meliputi aspek fisik sampai ke aspek spiritual.(*)
*) Aan Aliyudin adalah seorang akademisi, Ketua Lakpesdam MWC NU Rancaekek Kabupaten Bandung
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id
****) Ketentuan pengiriman naskah opini:
Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id
Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
Panjang naskah maksimal 800 kata
Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
Hak muat redaksi.(*)