Berkenalan dengan Ali Aziz, Imam Besar Masjid Al Akbar Surabaya yang Juga Seorang Peneliti

21 Maret 2026 21:30 21 Mar 2026 21:30

Thumbnail Berkenalan dengan Ali Aziz, Imam Besar Masjid Al Akbar Surabaya yang Juga Seorang Peneliti

Khotib Salat Idulfitri Masjid Al Akbar Surabaya, Prof. Dr. H, Moch Ali Aziz. (Foto: Instagram Masjid Al Akbar Surabaya)

KETIK, SURABAYA – Prof. Dr. HM. Ali Azis, M.Ag merupakan Imam Besar Masjid Al Akbar Surabaya sekaligus dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Memiliki dua profesi tak membuatnya kewalahan, sebaliknya banyak prestasi yang berhasil ia raih.

Di bidang akademik, selama lima tahun berturut-turut pada 2021–2025, ia mencatatkan prestasi internasional. Ia menemukan teknologi yang diberi nama UNUSA-Water, berupa sistem filtrasi bertingkat berbahan alam yang mampu mengubah air kotor menjadi air layak minum dan sanitasi.

"Betapa besar manfaatnya untuk masyarakat Indonesia, mengubah air kotor dan najis menjadi air yang bersih dan suci. Berapa juta orang yang diselamatkan dari kekurangan air," katanya.

Menurutnya, prestasi tersebut dilakukan bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan bagi masyarakat luas. Melalui penelitian itu, ia juga ingin menularkan semangat kepada semua pihak bahwa banyak hal yang dapat dilakukan untuk memberi dampak positif.

Tak harus menjadi peneliti seperti dirinya. Ia mencontohkan, pada Ramadan yang baru saja berlalu, banyak kegiatan kecil yang berdampak luas, mulai dari sedekah tenaga, pemikiran, hingga sedekah ilmu.

"Sedekah paling berharga bagi penguasa atau legislatif adalah kebijakan atau keputusan penting," lanjutnya.

Foto Jemaah Salat Idulfitri di Masjid Al Akbar Surabaya. (Foto: Humas Masjid Al Akbar Surabaya)Jemaah Salat Idulfitri di Masjid Al Akbar Surabaya. (Foto: Humas Masjid Al Akbar Surabaya)

Pesan tentang pentingnya menjadi pribadi yang berdampak itu juga ia sampaikan dalam khutbah Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang dilaksanakan pagi tadi di Masjid Al Akbar Surabaya.

Dalam sebuah hadis, ia menjelaskan bahwa konsep "berdampak" dikenal dengan istilah anfa'uhum linnas, yaitu manusia yang paling bermanfaat bagi sesama.

"Dalam Al-Qur’an (21:106), muslim berdampak itu disebut rahmatan lil 'alamin atau problem solver, yakni muslim pemberi solusi atau kebahagiaan dalam persoalan kemanusiaan, baik sesama muslim maupun nonmuslim, serta lingkungan. Lawan katanya adalah muslim la'natan lil 'alamin atau problem maker, yaitu muslim yang selalu membuat masalah di tengah masyarakat dan lingkungan," jelasnya.

Ia berharap spirit Ramadan mampu melahirkan muslim berdampak seperti Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, yang dikenal sebagai Bapak Aljabar atau Bapak Algoritma. Atau seperti Ibn Sina dalam ilmu kedokteran, maupun dalam bidang sosial keagamaan di Indonesia seperti Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, serta Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dua organisasi keagamaan yang melahirkan ratusan ribu lembaga pendidikan, rumah sakit, dan pesantren di dalam maupun luar negeri.

"Patut kita syukuri, di Jawa Timur telah lahir anak muda asal Madura, Achmad Syaifuddin, yang masuk dalam daftar 2 persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia dan menempati peringkat ke-17 dunia yang dirilis Stanford University bekerja sama dengan Elsevier pada 19 September 2025," bebernya.

Salat Idulfitri tersebut juga diikuti oleh Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, bersama sekitar 50.000 jemaah. (*)

Tombol Google News

Tags:

Moh Ali Aziz Al Akbar Ali Aziz Idulfitri Salat Idulfitri