KETIK, MALANG – Pemerintah Kota Malang menghadapi tantangan besar dalam menekan angka stunting. Berdasarkan data e-PGGBM atau bulan timbang hingga Oktober 2025, masih terdapat 2.887 anak yang berpotensi stunting dan harus ditangani.
Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menjelaskan, penuntasan kasus stunting ditargetkan rampung dalam lima tahun ke depan. Untuk mencapai target tersebut, berbagai intervensi dilakukan melalui kolaborasi dengan sejumlah pemangku kepentingan.
"Nanti akan ada pendampingan dari Fakultas Kesehatan di Kota Malang. Harapannya 5 tahun ke depan, 2.000 sekian anak yang terdata sudah bisa dihilangkan potensi stuntingnya," ujar Ali, Senin, 15 Desember 2025.
Untuk mencapai target dalam lima tahun ke depan, penanganan potensi stunting akan difokuskan di setiap kecamatan. Kecamatan yang dinilai memiliki metode efektif dalam menekan stunting akan dijadikan percontohan.
"Harapannya di 5 tahun ke depan itu selesai penanganan untuk potensi stunting. Kami fokuskan penanganan di setiap kecamatan, tiap tahun," lanjutnya.
Ali juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebenarnya memiliki kewajiban dalam pencegahan stunting. Salah satunya dengan memberikan asupan makanan ke ibu hamil.
"Itu ada kewajibannya. Jadi 10 persen dari kuota setiap dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) itu diarahkan untuk penuntasan stunting," sebutnya.
Ali memastikan bahwa efisiensi dan penurunan dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat tidak berpengaruh pada pengentasan stunting di Kota Malang. Terlebih program tersebut kini menjadi prioritas Pemkot Malang.
"Ada ribuan anak yang punya potensi stunting, itu menjadi fokus kami. Kalaupun ada efisiensi maka kami akan lari pada CSR. Kami menggandeng Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Malang, akademisi, dan termasuk akademisi kesehatan," tegasnya. (*)
