Kiai Zuhri Zaini: Salat Adalah Mi‘raj Orang Beriman, Harus Dihadirkan dengan Hati dan Khusyuk

22 Februari 2026 09:40 22 Feb 2026 09:40

Thumbnail Kiai Zuhri Zaini: Salat Adalah Mi‘raj Orang Beriman, Harus Dihadirkan dengan Hati dan Khusyuk

KH. Moh. Zuhri Zaini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo (Foto:Ponirin Mika/Ketik.co.id)

KETIK, PROBOLINGGO – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kiai Haji Moh Zuhri Zaini, menegaskan pentingnya menghadirkan hati dan kekhusyukan dalam melaksanakan salat. Ia menyebut salat sebagai mi‘rajul mukmin, yakni sarana spiritual bagi orang beriman untuk “naik” menghadap Allah SWT secara batin.

Hal tersebut disampaikan Kiai Zuhri dalam pengajian kitab Nashoihud Diniyah pada Ahad, 22 Februari 2026.

Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara peristiwa mi‘raj Nabi Muhammad SAW dan mi‘raj umatnya. Nabi Muhammad SAW diperjalankan hingga Sidratul Muntaha dengan jasad dan ruh, sedangkan umat Islam melakukan mi‘raj melalui salat dalam dimensi batin.

"Kita bisa melakukan mikraj kepada Allah dengan batin, bukan dengan badan. Dalam salat, posisi paling dekat antara hamba dengan Sang Pencipta adalah saat sujud yang disertai ketundukan, bukan sekadar menempelkan dahi ke bumi," jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa salat yang dilakukan secara asal-asalan atau dalam keadaan lalai (ghaflah) tidak akan membawa perubahan positif dalam kehidupan. Bahkan, salat tanpa kehadiran hati dapat menghilangkan makna ibadah itu sendiri.

Kiai Zuhri mencontohkan gerakan takbir sebagai momentum menghadirkan kesadaran spiritual. Saat lisan mengucapkan “Allahu Akbar”, hati juga harus merasakan kebesaran dan keagungan Allah SWT.

"Salat itu harus menghadirkan pikiran dan hati, bukan hanya menghadirkan badan. Bukan hanya melaksanakan aturan formal, tapi harus menghadirkan hati dengan khusyuk dan ketundukan," tegasnya.

Terkait kewajiban menghadap kiblat, ia meluruskan bahwa hal tersebut merupakan ketentuan syariat, bukan berarti Allah berada di arah tertentu. Ia menekankan bahwa kehadiran Allah dapat dirasakan melalui tanda-tanda kebesaran-Nya di mana pun manusia berada.

Di akhir pengajian, Kiai Zuhri berpesan agar umat Islam tidak menunggu datangnya rasa khusyuk untuk melaksanakan salat. Kekhusyukan, menurutnya, harus dilatih secara konsisten melalui kesungguhan, perenungan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca, serta pelaksanaan salat dengan tidak tergesa-gesa. (*)

Tombol Google News

Tags:

sholat Mikroj Kiai Zuhri Zaini