KETIK, PROBOLINGGO – Ma’had Aly Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, kembali mengukuhkan para pejuang ilmu dalam prosesi Wisuda Mahasantri ke-XI yang berlangsung khidmat, Minggu, 15 Februari 2026.
Acara ini dihadiri langsung Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, jajaran pengurus, serta wali santri.
Dalam sambutannya, Kiai Zuhri Zaini menyampaikan apresiasi kepada pengurus Ma’had Aly yang konsisten melahirkan lulusan setiap tahun.
Ia berharap lembaga tafaqquh fiddin tersebut terus mencetak kader umat dan fuqoha yang mumpuni.
Kepada para wisudawan dan wisudawati, ia mengingatkan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu.
Proses belajar, menurutnya, harus terus berlangsung sepanjang hayat dan mampu menjawab tantangan zaman.
“Apa yang dicapai sekarang baru awal. Tugas kita sebagai ahli ilmu bukan hanya memperbanyak wawasan, tetapi menerapkan ilmu tersebut di tengah masyarakat. Apa gunanya ilmu jika tidak diamalkan?” ujar Kiai Zuhri.
Ia menambahkan bahwa ilmu agama memiliki kedudukan istimewa karena bersumber dari Allah SWT melalui Rasulullah SAW. Karena itu, selain penguasaan materi, dibutuhkan semangat dakwah untuk menyebarkan ilmu sebagai bentuk tanggung jawab sosial.
Senada dengan itu, K Muhammad Alfayyadl atau Gus Fayyadl menjelaskan bahwa Ma’had Aly Nurul Jadid merupakan lembaga khusus tafaqquh fiddin yang fokus pada pendalaman ilmu fiqih.
Dalam upaya melahirkan ulama, lembaga ini telah membuka program Marhalah Tsaniyah setara S2 sebagai kelanjutan dari Marhalah Ula setara S1.
“Tujuannya memberikan kesempatan bagi mahasantri untuk memperdalam ilmu yang telah diperoleh dari Marhalah Ula,” kata Gus Fayyadl.
Ia menyebut, hakikat seorang ulama adalah mereka yang memiliki rasa takut atau khosyah kepada Allah SWT yang lahir dari kedalaman ilmu.
Acara semakin berbobot dengan orasi ilmiah yang disampaikan Prof Dahlan.
Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa ilmu ideal adalah ilmu yang dikuasai, direfleksikan, dan diamalkan dengan landasan keikhlasan.
“Amal lahiriah itu ibarat raga yang tegak, namun tanpa keikhlasan, amal tersebut tidak memiliki ruh. Pengetahuan tidak boleh berhenti hanya sebagai teori, melainkan harus mewujud dalam tindakan nyata,” pesannya di hadapan hadirin.
Prosesi wisuda ditutup dengan pesan dari Kiai Zuhri agar para lulusan tidak melupakan jasa para guru, mulai dari pengajar dasar huruf hijaiyah hingga dosen di jenjang tinggi, serta memuliakan peran orang tua yang telah mendampingi hingga titik ini.(*)
