KETIK, SURABAYA – Imam Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) KHA Muzakky Al-Hafidz menegaskan bahwa tolok ukur hidup seseorang bukan terletak pada panjang atau pendeknya usia, melainkan pada keberkahan dan manfaatnya karena umur panjang tanpa diiringi amal kebaikan tidak memiliki nilai.
Hal tersebut disampaikan KHA Muzakky Al-Hafidz dalam Kajian Senja Al-Yasmin yang dipandu Pengasuh Pesantren Digipreneur Al-Yasmin H Helmy M Noor di Surabaya, Rabu, 28 Januari 2026.
“Allah punya rahasia sejak usia kita 4 bulan dalam kandungan yakni jodoh, umur dan rezeki, karena itu satu-satunya alasan boleh berdoa minta umur panjang adalah berjumpa dengan Ramadhan,” ujarnya.
Ustaz Muzakky menjelaskan bahwa umur manusia sepenuhnya berada dalam kehendak Allah dan tidak diketahui manusia. Menurutnya, ikhtiar yang dapat dilakukan adalah menjaga kesehatan, pola makan, pola pikir, serta pola istirahat.
“Yang penting, ojok kakehan pola (jangan banyak tingkah),” tuturnya.
Ia juga menambahkan, perihal jodoh dan rezeki juga merupakan rahasia Allah dan telah ditentukan di Lauhul Mahfudz, baik siapa orangnya maupun kadar yang diterima setiap manusia.
Muzakky juga menyinggung ayat Al-Quran yang menjelaskan bahwa umur tidak dapat dimajukan atau diundur walau sesaat.
“Bagaimana dengan soal silaturahmi/sedekah bisa memanjangkan umur? Soal Panjang itu bukan ukuran secara kuantitas atau jumlah, tapi ukuran kualitas atau berkah atau manfaat, jadi umurnya semakin berkah. Jadi, soal umur itu sangat ditentukan kebaikan kita selama hidup,” ujarnya.
Ia menyebut sebagian ulama ada yang beranggapan bahwa permintaan umur panjang bisa bermakna keliru atau musyrik jika dilandasi keinginan mempertahankan kepentingan duniawi semata. Sikap tersebut dinilai berpotensi mencerminkan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
"Jadi, ukuran kebaikan itu sebagaimana sabda Rasulullah bahwa sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Ukuran kebaikan bukan panjang-pendeknya umur, melainkan amal baik atau manfaat/berkah bagi orang lain. Bahkan, ahli neraka pun ingin keluar sebentar dari neraka untuk melakukan amal kebaikan," katanya.
Dalam kajian yang diikuti puluhan jamaah tersebut, Muzakky membagi fase usia manusia menjadi tiga tahapan, yakni usia dunia (20–40 tahun), usia dunia dan akhirat (40–60 tahun), serta usia akhirat (60 tahun ke atas). Sementara usia 1–20 tahun tidak dihitung karena dalam fase tersebut belum layak menerima tanggung jawab penuh.
"Orang cerdas itu melakukan aktivitas sesuai dengan masa/fase. Untuk umur 20-40 tentu giat bekerja, ingat dunia, tapi lupa akhirat, misalnya sering lupa sholat, karena mikir akhirat hanya 30 persen. Usia 40-60, usia sudah punya suami/istri, rumah, mobil, dan lainnya, sehingga ada rasa takut kehilangan, positifnya dia lari ke Allah, meski dekat Allah karena takut kehilangan, padahal kehilangan di dunia itu pasti, misalnya HP pasti rusak/hilang, suami/isteri pasti mati, minggat, atau tak sesuai harapan/kasar," ujarnya.
Untuk fase 60 ke atas yang juga disebut sebagai fase akhirat, Ustadz Muzakky mengatakan bahwa Nabi Muhammad telah mengatakan bahwa usia umatnya berkisar dari 60 hingga 70 tahun.
"Nabi bilang usia umatku 60-70, jadi usia umat Nabi itu nggak mungkin ikut usia Nabi Nuh yang ratusan tahun. Nabi sendiri wafat pada usia 63 tahun yang tergolong usia produktif. Kalau lebih dari usia Nabi itu sudah banyak kehilangan kenikmatan dunia, seperti otot, mata/kabur, daya ingat/lupa," tambahnya.
Sebagai contoh umur yang berkah, Muzakky menyebut sejumlah ulama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali, dan Imam Nawawi yang wafat di usia relatif singkat, namun meninggalkan karya yang dapat terus dibaca oleh masyarakat dunia hingga kini.
Ia juga mencontohkan Pesantren Al-Yasmin sebagai bentuk karya manajerial yang memberi manfaat luas. Menurutnya, karya dan amal jariyah menjadi wujud nikmat umur yang sesungguhnya.
“Kalau saya mungkin bisa mengisi kajian seperti ini, tapi apa yang saya sampaikan bisa direkam dan terus dikaji orang sampai kapan pun, sehingga menjadi jariyah yang punya karya. Itulah nikmat umur, jangan dilupakan. Yang penting jangan meninggalkan karya maksiat, seperti ghibah, maksiat terselubung,” pungkasnya. (*)
