Apa Saja Tiga Alasan Malam Lailatulqadar Dirahasiakan? Ini Penjelasan Gus Mujab

12 Maret 2026 23:21 12 Mar 2026 23:21

Thumbnail Apa Saja Tiga Alasan Malam Lailatulqadar Dirahasiakan? Ini Penjelasan Gus Mujab

Foto bersama dalam Kajian Senja Al-Yasmin yang digelar di Pesantren Digiprenueur Al Yasmin Surabaga pada Rabu 11 Maret 2026. (Foto: Humas Al Yasmin)

KETIK, SURABAYA – Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi Ampel Surabaya, KH Ahmad Mujab Muthohar atau Gus Mujab, mengungkapkan tiga alasan mengapa Allah SWT merahasiakan waktu terjadinya malam Lailatulqadar yang diyakini hadir pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.

"Mayoritas ulama menyebutkan malam Lailatulqadar itu terjadi pada 10 malam terakhir Ramadhan, yang potensi terjadinya pada malam ganjil, nah kapan itu," jelasnya dalam Kajian Senja Al-Yasmin yang digelar di Pesantren Digipreneur Al Yasmin Surabaya pada Rabu, 11 Maret 2026.

Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa malam Lailatulqadar dirahasiakan dari manusia. Pertama, kata dia, agar manusia bersungguh-sungguh atau serius dalam meminta atau mencarinya.

"Karena kalau diberitahu justru tidak akan sungguh-sungguh atau tidak sampai menangis memintanya, jadi ada power di dalamnya. Itu seperti Allah merahasiakan rezeki, jodoh, dan kematian," katanya.

Alasan kedua, lanjut dia, agar proses pencarian malam Lailatulqadar menjadi lebih menarik dan penuh kejutan. Ia mengibaratkan hal itu seperti sebuah perlombaan yang lebih seru jika pemenangnya dirahasiakan. 

"Siapa pemenang itu seperti Allah merahasiakan kekasih/wali Allah agar orang hormat kepada siapapun dia tanpa memandang fisiknya, bisa saja peraihnya adalah tukang becak. Seru kan...??," katanya.

Alasan ketiga, tegas Gus Mujab, ialah agar Allah dapat membanggakan kesungguhan manusia di hadapan para malaikat. 

"Kayak orang yang mengharap pertaubatan, tapi Allah merahasiakan, apakah diterima atau tidak, sehingga dia sungguh-sungguh bertaubat dan Allah pun bangga. Allah pun dapat membanggakan manusia kepada para malaikat yang menilai manusia hanya membuat kerusakan saja di muka bumi," tambahnya.

Sementara itu, dalam kajian yang dipandu oleh pengasuh pesantren setempat, H Helmy M Noor, selain kerahasiaan waktunya, Gus Mujab juga menjelaskan sejumlah keistimewaan malam Lailatulqadar yang disebut dalam Al-Qur’an Surah Al-Qadr ayat 1–5.

Ia menyebutkan tiga hal yang menjadikan malam tersebut sangat istimewa, yakni turunnya para malaikat, suasana malam yang penuh kedamaian/keselamatan hingga terbit fajar, serta peristiwa turunnya Al-Qur’an dari Lauh Mahfudz ke langit dunia sebelum kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama 23 tahun.

"Kalau Laila itu bermakna malam, tapi kalau Alqadar itu ada tiga pendapat ulama. Pendapat pertama bermakna sesak atau malam yang penuh sesak atau sempit, karena pada malam itu malaikat yang membawa rahmat turun ke bumi untuk diberikan kepada hamba-hamba Allah SWT. Jadi, sesak atau sempit itu bukan karena utang, tapi turunnya semua malaikat rahmat," ujarnya.

Pendapat kedua memaknai Alqadar itu malam yang penuh kemuliaan/keagungan. "Itu cocok dengan Al-Qur'an surah Ad-Dukhon ayat 3 yang menyebut lailatim mubarokah (malam yang penuh kemuliaan) dan juga cocok dengan Al-Qur'an surah Al-An'am ayat 91 yang menyebut keagungan," katanya.

Pendapat ketiga, Alqadr dimaknai sebagai malam penentuan takdir. "Surah Alqadar menyebut 'min kulli amr' atau dengan membawa segala urusan. Artinya, malam lailatulqadar itu malam penentuan, setahun kedepan, artinya segala urusan diatur untuk tahun depan. Itu cocok dengan makna yang disebut dalam Ad-Dukhon ayat 4-5," katanya.

Gus Mujab menambahkan, dalam ilmu balaghah atau keindahan bahasa Arab, Surah Al-Qadr juga memiliki keistinewasn tersendiri. Di antaranya pengulangan kata “Lailatulqadar” sebanyak tiga kali dalam surah tersebut serta irama akhir ayat yang serupa.

Selain itu, Allah juga menggunakan kalimat tanya dengan "istifham" (kata wama yang berarti apa yang ditanyakan itu mulia). Yang unik lagi, ayat Alqadar itu berirama pada ujung ayat yakni ujungnya sama-sama "ra (r)" (qadr, sahr, hasr, amr, fajr).

Ia juga menambahkan bahwa Surah Alqadar turun dengan latar belakang yang terbagi menjadi dua versi istimewa. Yaitu versi Hadist yang menyatakan Nabi pernah menyebut sosok Israel yang selalu jihad membawa pedang di jalan Allah selama 1.000 bulan (83 tahun), lalu versi Tafsir At-Tabrani yang menyatakan ada sosok Bani Israel yang setiap malam sholat malam, tapi siang harinya berjihad di jalan Allah. Orang itu melakukannya 1.000 bulan (83 tahun).

"Nah, umat Nabi Muhammad SAW cukup dengan semalam saja bisa sama dengan ibadah 1.000 bulan. Itulah istimewanya umat Nabi. Contoh lain, sholat umat nabi lain 50 rakaat, tapi umat Nabi Muhammad cuma 5 rakaat," katanya.

Terkait amalan untuk meraih Lailatulqadar, ia menyebutkan Nabi Muhammad SAW memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ibadah tersebut dapat dilakukan di masjid maupun di rumah, seperti melaksanakan salat sunnah, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa memohon ampunan.

"Kalau di desa dan pesisir juga bisa dirasakan suasana pasca turunnya Lailatulqadar yakni anginnya tidak panas, tidak dingin, tenang/sejuk, matahari terbit di pagi hari dengan nuansa terbitnya putih, nggak ada merahnya. Kalau di kota terkendala bangunan gedung-gedung," pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Al Yasmin Kajian Islami lailatulqadar Pesantren Digipreneur Ramadan