Kemacetan Parah di Pelabuhan Ketapang Belum Terurai, DPR Soroti Dampak ke Distribusi Pangan

2 April 2026 10:20 2 Apr 2026 10:20

Thumbnail Kemacetan Parah di Pelabuhan Ketapang Belum Terurai, DPR Soroti Dampak ke Distribusi Pangan

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T. Danaparamita, Rabu 1 April 2026 (Foto : Hakim Said / ketik.com)

KETIK, BANYUWANGI – Kemacetan panjang di jalur menuju Pelabuhan Penyeberangan Ketapang masih terjadi hingga awal April 2026. Antrean kendaraan yang mengular belasan kilometer terus menjadi persoalan harian, terutama menjelang arus mudik dan Hari Raya Nyepi.

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T. Danaparamita, mengungkapkan bahwa kemacetan kronis di jalur Ketapang mulai terjadi sejak pertengahan Maret 2026. Lonjakan kendaraan dipicu oleh arus mudik lebih awal serta meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang perayaan Nyepi.

Ia menggambarkan kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Dalam beberapa kasus, kendaraan hanya mampu bergerak sejauh 50 meter dalam waktu hingga enam jam.

“Walaupun jajaran pejabat dari Kepolisian hingga Kementerian Perhubungan telah melakukan berbagai upaya, mulai dari pemetaan titik macet, kebijakan kapal berkapasitas besar, hingga skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB). Tapi, langkah tersebut belum menyentuh akar persoalan,” jelas Sonny kepada Ketik.com, Kamis, 2 April 2026. 

Sebagai putra daerah Banyuwangi, Sonny mengaku prihatin terhadap kondisi tersebut. Ia menilai keluhan masyarakat terus muncul, namun belum diiringi dengan solusi yang menyentuh persoalan utama.

“Walaupun masyarakat sering menyampaikan keluhannya. Tapi, untuk mencari akar masalah sehingga tidak dapat mencari solusi yang tepat," tegasnya dalam keterangan pers, Rabu, 1 April 2026.

Sonny menilai kebijakan seperti pembukaan buffer zone dan penambahan armada kapal belum akan efektif jika keterbatasan dermaga tidak segera diatasi. Ia merujuk pada temuan Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) yang menyebut hampir 50 persen kapal harus mengantre di laut karena menunggu giliran sandar.

Sebagai anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi sektor pertanian, kelautan, dan kehutanan, Sonny menekankan pentingnya jalur Ketapang–Gilimanuk sebagai jalur vital distribusi pangan antara Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat.

Ia mengungkapkan, antrean panjang berdampak langsung pada kualitas komoditas yang diangkut, terutama produk hortikultura. “Dengan antrean panjang yang sering terjadi di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang Kerusakan Komoditas Hortikultura yang diangkut truk yang terjebak antrean hingga 15 jam menyebabkan Komoditas Hortikultura cepat busuk. Sehingga petani dan pedagang merugi besar karena hasil bumi tak layak jual,” tutur Sonny.

Selain itu, distribusi ternak juga menghadapi risiko tinggi. Hewan ternak yang tertahan terlalu lama dapat mengalami stres, penurunan bobot badan, bahkan kematian. Biaya operasional pun meningkat akibat kebutuhan konsumsi selama antrean.

"Saya merasakan prihatin dengan pengirim hasil bumi. Mereka rugi dua kali, yakni biaya operasional membengkak, sementara barang dagangan yang mereka bawa di truk busuk di perjalanan jalan. Ini juga bisa memicu inflasi harga pangan di daerah tujuan karena stok yang langka," ujar Sonny.

Ia pun mendesak pemerintah untuk tidak lagi mengandalkan solusi jangka pendek. Menurutnya, diperlukan langkah strategis dan permanen, terutama melalui evaluasi kapasitas dermaga agar armada kapal dapat beroperasi optimal tanpa antre panjang di laut.

"Sekali lagi saya minta pemerintah lebih serius menyelesaikan persoalan antrean panjang tahunan di Pelabuhan Ketapang ini. Jangan biarkan distribusi logistik pangan kita terus terganggu," pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Sonny Anggota DPR RI fraksi pdi perjuangan Desak Pemerintah Seriuas cari Akar . Masalah kemacetan tahunan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi