Kekeringan Panjang, Arum Sabil Ingatkan Upaya Antisipasi Sebelum Debit Menyusut

1 April 2026 22:06 1 Apr 2026 22:06

Thumbnail Kekeringan Panjang, Arum Sabil Ingatkan Upaya Antisipasi Sebelum Debit Menyusut

Pemimpin HKTI Arum Sabil ketika diwawancari wartawan pada Rabu, 1 April 2026 terkait antisipasi musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang. (Foto: Gracio Pardomuan/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Potensi kekeringan akibat musim kemarau yang lebih panjang mulai menjadi perhatian di sektor pertanian.

Penurunan debit air dinilai bisa berdampak langsung terhadap keberlangsungan aktivitas petani di berbagai daerah.

Tokoh pertanian Jawa Timur, Arum Sabil, mengingatkan pentingnya antisipasi untuk menjaga pasokan air saat debit mulai menyusut.

“Pada akhirnya kemarau itu urusannya air. Air tentu ada, tapi debitnya tidak besar. Air biasanya ada di bawah atau di sumber-sumber tertentu, sehingga untuk mengairi lahan yang berada di atas perlu diangkat menggunakan alat, seperti pompa,” ujar Arum Sabil.

Menurutnya, kondisi kemarau tidak selalu berarti ketiadaan air secara total.

Namun, distribusi air menjadi tantangan karena banyak sumber air berada di posisi yang lebih rendah dibanding lahan pertanian.

Penggunaan pompa air dinilai menjadi langkah efektif untuk mengalirkan air dari sungai maupun sumber lainnya menuju lahan pertanian.

Dengan cara tersebut, petani tetap dapat mengairi sawah meski curah hujan minim dan debit air menurun.

Selain itu, ia juga menyoroti keterbatasan pemanfaatan waduk yang tidak dapat menjangkau seluruh lahan pertanian.

Hal ini disebabkan tidak semua wilayah memiliki jaringan irigasi teknis yang terhubung dengan waduk.

“Waduk itu tidak serta-merta bisa dialirkan ke persawahan. Biasanya hanya sawah yang memiliki irigasi teknis yang dapat memanfaatkan air dari waduk,” jelasnya.

Di sisi lain, masih banyak lahan pertanian yang bergantung pada curah hujan atau sawah tadah hujan.

Ketergantungan ini membuat petani semakin rentan saat musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya.

Karena itu, ia mendorong adanya langkah antisipatif, baik dari petani maupun pemerintah, untuk mengurangi risiko kekeringan.

Penyediaan pompa air, pemanfaatan sumber air alternatif, serta penguatan sistem irigasi dinilai penting agar produksi pertanian tetap terjaga di tengah ancaman kekeringan.(*)

Tombol Google News

Tags:

HKTI ketahanan pangan Arum Sabil cuaca ekstrem Pertanian kemarau panjang Kekeringan Kemarau pompa air irigasi Jawa timur