KETIK, KENDAL – Kabupaten Kendal, khususnya Kecamatan Kaliwungu, telah lama dikenal sebagai Kota Santri. Di balik hiruk-pikuk jalur Pantura, tersimpan warisan sejarah penyebaran Islam yang agung di Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan.
Di sanalah bersemayam Makam Kanjeng Sinuhun Sunan Katong, sebuah destinasi wisata religi yang tak pernah sepi dari lantunan doa para peziarah.
Secara geografis, Komplek Makam Sunan Katong terletak di area perbukitan yang asri, tepatnya di Desa Protomulyo.
Lokasi ini sering disebut dalam babad tanah Jawa sebagai Bukit Kuntul Nglayang. Suasana di lokasi sangat teduh, dikelilingi pepohonan besar yang menaungi area pemakaman, memberikan ketenangan batin bagi siapa saja yang datang.
Berdasarkan latar belakang sejarah, Sunan Katong memiliki nama asli Raden Katong. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh sentral penyebaran agama Islam di wilayah Kendal dan sekitarnya.
Banyak literatur sejarah menyebutkan bahwa Sunan Katong memiliki hubungan darah yang dekat dengan Kesultanan Demak Bintoro, bahkan diyakini sebagai adik dari Raden Patah.
Makam ini tidak berdiri sendiri. Di sekitarnya terdapat komplek makam tokoh-tokoh penting lainnya yang turut serta dalam syiar Islam, seperti Makam Kyai Guru (Syeikh Asy’ari), Pangeran Djuminah, serta para pengikut setia Sunan Katong.
Keberadaan makam-makam ini menjadikan area Protomulyo sebagai satu kesatuan komplek wisata religi yang terintegrasi.
Memasuki area makam, pengunjung akan disambut oleh gapura pendopo yang megah dan terawat dengan tulisan "Selamat Datang di Makam Kanjeng Sinuhun Sunan Katong". Fasilitas di area ini pun terus berbenah demi kenyamanan pengunjung.
Menurut salah satu pekerja, Sanaji, yang sehari-harinya merawat Komplek Makam Sunan Katong, arus pengunjung memiliki pola tertentu.
"Kalau hari biasa memang ada saja yang datang, tapi lonjakan pengunjung itu pasti terjadi pada hari Minggu dan hari libur nasional. Apalagi kalau momen Syawalan (satu minggu pasca lebaran), itu puncaknya. Peziarah membludak, tidak hanya dari Kendal tapi dari luar daerah," ujar Sanaji saat ditemui di lokasi, Jumat, 16 Januari 2026.
Motivasi para peziarah pun beragam, namun bermuara pada satu tujuan spiritual. Eva, salah satu pengunjung yang ditemui usai memanjatkan doa, mengungkapkan alasannya berziarah.
"Tujuannya ya untuk mendoakan beliau-beliau yang sudah berjasa menyebarkan agama Islam, sekaligus 'ngalap berkah' (mencari keberkahan) dari Allah SWT melalui perantara (wasilah) wali-Nya. Hati jadi lebih tenang kalau sudah ke sini," tutur Ibu Eva.
Melihat potensi besar yang dimiliki Komplek Makam Sunan Katong, wisata religi ini memegang peranan vital dalam peta pariwisata Kabupaten Kendal ke depannya.
Pengembangan tidak bisa hanya berhenti pada pemugaran fisik makam. Diperlukan integrasi yang kuat antara aspek spiritual dan ekonomi kerakyatan. Kedepannya, kawasan ini diharapkan dapat menjadi pusat edukasi sejarah dan pemberdayaan UMKM.
Dengan pengelolaan yang profesional dan tetap menjaga kesakralan, Makam Sunan Katong bukan hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir sang penyebar Islam, tetapi juga menjadi penopang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kendal yang berbasis kearifan lokal.(*)
