KETIK, MALANG – Kepala Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Abdul Basid, S.S., M.Pd, kembali dilantik untuk periode kedua pada September lalu. Bukan hal mudah menjadi sosok yang dipercaya memimpin salah satu prodi BSA terbaik di Indonesia, bahkan hingga dua periode.
Dalam wawancaranya, Senin, 24 November 2025, ia mengungkap perjalanan hidup, tantangan sebagai Kaprodi, hingga harapan besar untuk masa depan BSA.
Ustadz Basid, sapaannya, menempuh pendidikan S1 hingga S3 seluruhnya di UIN Malang. Dosen kelahiran Kediri ini mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi pejabat struktural.
“Cita-cita saya itu hanya dua: jadi peneliti dan penulis. Jabatan Kaprodi ini tidak pernah ada dalam rencana. Tapi kalau sudah digariskan, ya harus diambil. Ini rezeki sekaligus ujian,” ujarnya sambil tersenyum.
Selama memimpin prodi, banyak momen yang menurutnya mengesankan, terutama saat pelepasan mahasiswa dalam acara yudisium. Pada momen itu, ia kerap merasa terenyuh.
“Saya sering merasa belum maksimal dalam mendampingi mahasiswa, baik di pendidikan, penelitian, maupun pengabdian,” tuturnya.
Ia juga menyoroti kerja besar tim BSA, terutama saat mempersiapkan akreditasi internasional FIBAA Jerman dan akreditasi nasional BAN-PT.
“Itu momen yang menguras energi sekaligus memacu inovasi,” tambahnya.
Ke depan, BSA menargetkan sejumlah pengembangan, mulai dari revisi kurikulum, percepatan kelulusan mahasiswa, hingga peningkatan kualitas dosen agar seluruhnya segera bergelar doktor.
Selain itu, kerja sama internasional terus diperluas, seperti program I-Can, I-Move, I-Smash hingga mendatangkan akademisi luar negeri sebagai narasumber.
“Semoga kita bisa saling mendukung dan sama-sama berprestasi, baik di level nasional maupun internasional,” katanya.
Ia menutup dengan satu mimpi besar: terwujudnya program double degree yang memungkinkan mahasiswa BSA belajar satu atau dua semester di luar negeri.
“Sudah mulai direncanakan, semoga suatu saat benar-benar bisa terwujud,” pungkasnya. (*)
