Israel Beri Ultimatum 60 Hari kepada Hamas: Serahkan Senjata atau Perang Kembali Berkobar

Ultimatum Kemungkinan Dimulai dari Pertemuan BoP yang Dihadiri Presiden Prabowo

17 Februari 2026 05:39 17 Feb 2026 05:39

Thumbnail Israel Beri Ultimatum 60 Hari kepada Hamas: Serahkan Senjata atau Perang Kembali Berkobar

Sekretaris Kabinet (Seskab) Israel, Yossi Fuchs dalam sebuah acara. (tangkapan layar youtube)

KETIK, JAKARTA – Israel mengumumkan ultimatum keras kepada kelompok Hamas di Gaza: paling lambat 60 hari, seluruh persenjataan mereka harus diserahkan lengkap atau Israel akan kembali melanjutkan operasi militernya di wilayah tersebut. Pernyataan ini disampaikan oleh Sekretaris Kabinet Israel, Yossi Fuchs, dalam sebuah konferensi yang digelar di Yerusalem pada Senin malam.

Yosi Fuchs, yang dikenal sebagai salah satu penasihat terdekat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengatakan ultimatum itu muncul atas permintaan pemerintahan Amerika Serikat, yang ingin memberikan kesempatan bagi proses pelucutan senjata tanpa kekerasan selama periode tersebut. “Ini adalah sebuah kesempatan untuk mengakhiri persenjataan kelompok militan secara total,” ujarnya kepada para peserta konferensi.

Namun, Fuchs menegaskan bahwa kesempatan itu tidak akan berlangsung selamanya. “Jika dalam 60 hari Hamas tidak menyerahkan semua senjatanya, termasuk senapan ringan seperti AK-47, maka Tentara Pertahanan Israel (IDF) akan menyelesaikan misi tersebut sendiri,” tegasnya.

 

Kapan Hitungan 60 Hari Dimulai?

Meski resmi diumumkan, belum ada tanggal pasti kapan periode 60 hari itu dimulai. Fuchs menyatakan bahwa hitungan waktu kemungkinan akan dimulai bersamaan dengan pertemuan Board of Peace (BoP) yang dipimpin oleh AS, dijadwalkan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Presiden Prabowo saat ini sudah berada di AS dan dikabarkan salah satunya beragendakan menghadiri pertemuan BoP. Indonesia sendiri termasuk salah satu negara yang memutuskan untuk bergabung ke dalam dewan bentukan Presiden Trump, meski keputusan itu banyak ditentang berbagai kelompok di dalam negeri Indonesia.  

Langkah ini merupakan kelanjutan dari gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025, setelah konflik dua tahun antara Israel dan Hamas yang telah menewaskan puluhan ribu orang. Namun kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan tersebut.

 

Tuntutan Israel: Pelucutan Senjata Secara Total

Dalam penyataan tersebut, Fuchs menegaskan bahwa yang dimaksud dengan pelucutan senjata bukan hanya senjata berat seperti roket atau misil antitank, tetapi mencakup setiap bentuk persenjataan, termasuk senjata kecil dan senapan ringan milik pejuang Hamas. “Semua itu harus ditinggalkan,” katanya singkat.

Sikap ini juga menegaskan posisi keras pemerintah Israel bahwa ancaman yang masih dipandang signifikan dari persenjataan Hamas tidak boleh dibiarkan berlanjut jika perdamaian sejati ingin tercapai.

 

Ancaman Perang Kembali Jika Hamas Gagal Patuh

Pernyataan Yossi Fuchs secara jelas menyiratkan bahwa jika ultimatum 60 hari itu gagal dimanfaatkan, Israel tidak akan ragu untuk melanjutkan operasi militernya di Gaza. “Jika tidak berhasil dalam jangka waktu itu, maka IDF harus menyelesaikannya,” ujar Fuchs, menggunakan istilah yang diartikan sebagai kembalinya serangan berskala besar.

Dalam beberapa pernyataannya sebelumnya, pejabat Israel juga menyinggung kemungkinan bahwa menjelang pemilu nasional yang diperkirakan berlangsung pada Juni 2026, situasi ini akan mencapai titik kritis: apakah Hamas benar-benar melucuti senjatanya atau Israel akan berada di tahap kampanye militer baru di Gaza.

 

Respons Internasional dan Tantangan Diplomatik

Sampai berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari pihak Hamas maupun Gedung Putih mengenai ultimatum 60 hari tersebut. Sementara itu, gencatan senjata yang dimediasi AS—yang sudah berlangsung beberapa bulan—sering dikritik oleh pihak Palestina sebagai rapuh karena klaim pelanggaran oleh kedua belah pihak.

Kelompok Hamas sendiri sebelumnya menolak pelucutan senjata secara sepihak dan menyarankan pendekatan lain, seperti penyimpanan atau pembekuan persenjataan, seraya menegaskan dirinya sebagai gerakan perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai pendudukan Israel.

 

Kisah di Balik Konflik

Konflik Israel–Hamas yang memicu ultimatum ini bermula dari serangan kelompok bersenjata ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 1.200 orang menurut data Israel. Sejak itu, operasi militer Israel di Jalur Gaza telah menyebabkan puluhan ribu kematian, terutama di antara warga sipil Palestina, dan menghancurkan infrastruktur di seluruh wilayah.

Gencatan senjata yang berjalan sampai saat ini memberikan jeda yang langka setelah dua tahun penuh pertempuran, meskipun ketegangan dan insiden kekerasan kecil masih terus terjadi.

Ultimatum 60 hari yang diberikan Israel kepada Hamas ini bukan sekadar batas waktu. Bagi Tel Aviv, ini merupakan batu uji bagi kemungkinan tercapainya perdamaian yang lebih langgeng di wilayah yang selama ini menjadi pusat salah satu konflik paling berlarut di dunia. Jika Hamas memilih menolak atau mengulur waktu, prospek kembalinya perang skala besar tetap terbuka—dengan konsekuensi kemanusiaan yang bisa dirasakan dalam ribuan kilometer di seluruh Timur Tengah.

Tombol Google News

Tags:

Sekretaris Kabinet Israel Yossi Fuchs Seskab gaza Hamas BoP Board of Peace