KETIK, SURABAYA – Perkembangan virus influenza A (H3N2) secara global menunjukkan tren peningkatan. Bahkan, varian baru subclade K telah terdeteksi di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia.
Berdasarkan pemeriksaan terhadap 88 sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di seluruh Indonesia yang diuji di laboratorium kesehatan masyarakat serta laboratorium rujukan berstandar biosafety level 3 (BSL-3), hingga akhir Desember 2025 tercatat total 62 kasus di delapan provinsi, termasuk Jawa Timur.
Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa perkembangan influenza A (H3N2) subclade K di Jawa Timur hingga akhir 2025 masih dalam kondisi terkendali.
Hasil surveilans dan pemeriksaan laboratorium rujukan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan tidak ada peningkatan tingkat keparahan dibandingkan dengan varian influenza lainnya.
“Kami ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa virus influenza A (H3N2) subclade K tidak berbahaya dan tidak mematikan. Di Jawa Timur, kondisi ini masih terkendali dengan baik. Munculnya varian ini merupakan hal yang wajar dalam perkembangan virus influenza dan terus dipantau oleh para ahli melalui pemantauan ilmiah. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu panik, namun harus tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Senin, 5 Januari 2026.
Meski dinilai terkendali, pengamatan terhadap virus tersebut terus dilakukan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui site sentinel ILI di Puskesmas Dinoyo Kota Malang serta SARI di RSUD dr. Saiful Anwar Kota Malang.
ILI didefinisikan sebagai penderita dengan demam ≥38 derajat Celsius yang disertai batuk dan gejala timbul kurang dari 10 hari. Sementara itu, SARI merupakan sindrom pernapasan akut berat.
Seluruh hasil pemeriksaan rutin dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya dan diteruskan ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (Biokes) Jakarta untuk pemeriksaan Whole Genome Sequencing.
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, tercatat 18 kasus positif dengan waktu pengambilan spesimen pada periode September hingga November 2025.
Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok usia anak dan remaja, dengan proporsi yang relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan.
“Seluruh temuan ini menjadi dasar bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk terus memperkuat kewaspadaan dini, terutama melalui pemantauan kasus infeksi saluran pernapasan akut di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar Khofifah.
Sejalan dengan temuan tersebut, Pemprov Jatim melalui Dinas Kesehatan telah menjalankan berbagai langkah antisipatif. Upaya tersebut meliputi pemantauan rutin surveilans ILI-SARI, koordinasi intensif dengan Kementerian Kesehatan RI, serta BBLKM Surabaya.
Selain itu, Pemprov Jatim juga secara berkala memantau Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) mingguan, serta pelaporan hasil pemeriksaan spesimen melalui aplikasi NAR sebagai bagian dari deteksi dini berbasis data.
Pembaruan dan penyegaran materi penanganan ISPA kepada tenaga kesehatan juga terus dilakukan agar layanan kesehatan tetap responsif.
Di sisi lain, edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat terus digencarkan, khususnya terkait penerapan etika batuk dan PHBS. Vaksin influenza juga direkomendasikan, terutama bagi kelompok berisiko seperti balita serta individu dengan daya tahan tubuh rendah.
“Meskipun di Jawa Timur terkendali, saya mengajak masyarakat untuk disiplin menerapkan etika batuk dan perilaku hidup bersih dan sehat. Penggunaan masker, terutama di kerumunan dan ruang tertutup, sangat dianjurkan,” katanya.
Ke depan, Pemprov Jatim berencana menerbitkan Surat Edaran kewaspadaan ISPA sebagai langkah pencegahan lanjutan. “Dengan langkah ini, kami berharap kewaspadaan dapat diperkuat tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat,” pungkas Khofifah.(*)
