KETIK, SURABAYA – Bulan Ramadan menjadi momentum umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Namun, para ulama mengingatkan agar umat tidak keliru dalam menentukan prioritas, sehingga amalan sunnah yang dikerjakan tidak sampai mengabaikan kewajiban utama.
Prioritas pertama dalam Ramadan adalah menjaga dan menyempurnakan ibadah wajib. Puasa Ramadan, salat lima waktu tepat waktu, serta kewajiban lain seperti zakat bagi yang telah memenuhi syarat, menjadi fondasi utama.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah menegaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman agar mencapai derajat takwa.
Yahya Zainul Ma'arif atau yang dikenal sebagai Buya Yahya, dalam salah satu kajiannya menekankan bahwa ibadah memiliki tingkatan dan skala prioritas. Menurutnya, seorang Muslim harus memahami mana yang lebih dahulu diutamakan ketika hendak memperbanyak amalan.
“Ibadah yang paling hebat adalah sholat fardhu, tidak ada yang bisa mengalahkan sholat fardhu. Kemudian yang kedua qobliyah dan ba’diyah, dan yang sama dengan qobliyah dan ba’diyah nanti adalah sholat dhuha, kemudian sholat witir. Bahkan ada yang mengatakan jika melakukan sholat tasbih, pahalanya hebat luar biasa, pahalanya bisa mengampuni begini-begini, bahkan itu tidak bisa mengalahkan sholat ba’diyah Isya,” ujar Buya Yahya dikutip dari kanal YouTube resminya yang berjudul "Urutan Prioritas Ibadah di Bulan Ramadhan".
Ia juga menyoroti fenomena di tengah masyarakat yang terkadang lebih bersemangat mengerjakan amalan tertentu, namun justru melupakan sunnah yang kedudukannya lebih utama.
“Terkadang masih banyak orang yang mengamalkan sholat tasbih, tetapi tidak mengerjakan sholat ba’diyah Isya. Demikian pula dengan sholat tarawih di bulan Ramadan, banyak yang semangat melaksanakannya, namun meninggalkan sholat ba’diyah Isya. Padahal pahalanya tidak bisa mengalahkan sholat ba’diyah Isya,” lanjutnya.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa meskipun tarawih dan amalan sunnah lainnya sangat dianjurkan di bulan Ramadan, kedudukannya tetap berada di bawah sholat fardhu dan sunnah rawatib yang mengiringinya.
Dengan memahami skala prioritas ini, umat Islam diharapkan mampu menjalani Ramadan secara lebih terarah, tidak hanya bersemangat dalam kuantitas ibadah, tetapi juga tepat dalam menempatkan mana yang paling utama. (*)
