KETIK, MALANG – Perjalanan panjang Kota Malang selama puluhan tahun menyimpan beragam kisah bahagia maupun tantangan bagi para penduduknya. Salah satu cerita datang dari Sekretaris DPRD Kota Malang, Zulkifli Amrizal, yang akrab disapa Zoel. Ia telah tinggal di Kota Malang sejak tahun 1983 dan merasakan langsung berbagai perubahan yang terjadi dari masa ke masa.
Bagi Zoel, Kota Malang hingga kini masih menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali, meskipun mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam beberapa dekade terakhir.
“Selama saya hidup di Malang, mulai kecil sampai bekerja sekarang ini, Kota Malang buat saya nyaman-nyaman saja. Kotanya nyaman, tenang, tidak terlalu banyak hal-hal yang menurut saya kurang pas,” ujar Zoel.
Ia juga mendukung sebutan Malang sebagai kota yang tenang dan mengasyikkan, seperti ungkapan “Malang Asoy” dan “Malang Suante” yang kerap diucapkan masyarakat. Menurutnya, karakter kota yang santai dan ramah masih terasa hingga saat ini.
Namun, di balik kenyamanan tersebut, Zoel mengakui adanya perubahan besar, terutama dalam hal kepadatan lalu lintas yang semakin terasa di sejumlah kawasan.
“Dulu misalnya tempat ini tidak macet. Sekarang kalau sore hari luar biasa macet. Di Sawojajar sampai Ranu Grati itu padat sekali, apalagi akhir pekan,” ungkapnya.
Ia menilai kemacetan yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi wajar dari perkembangan kota yang semakin pesat, terlebih dengan adanya rencana pengembangan Malang menuju kota metropolitan.
Selain membicarakan perubahan yang terjadi, Zoel juga menyampaikan harapannya untuk masa depan Kota Malang. Ia berharap kota ini semakin bersahabat bagi masyarakat, terutama dalam memberikan kemudahan dalam berusaha, pendidikan, serta akses terhadap lapangan pekerjaan.
“Kota Malang ini semakin berkembang dan ramah untuk masyarakat. Mungkin lebih memudahkan bagi masyarakat yang berusaha, kemudian yang kuliah juga semakin mudah, tidak menyulitkan masyarakat,” tuturnya.
Menurut Zoel, sektor jasa menjadi pilihan paling realistis untuk pengembangan Kota Malang di masa mendatang. Ia melihat perkembangan sektor seperti perhotelan, kuliner, serta perdagangan oleh-oleh sebagai peluang besar yang dapat terus ditingkatkan.
“Kalau saya lihat, Malang ini cocoknya jadi kota jasa. Perhotelan semakin berkembang, kemudian kuliner dan perdagangan oleh-oleh juga banyak yang diminati,” katanya.
Ia menambahkan, Kota Malang telah dikenal luas oleh masyarakat luar daerah sebagai kota dengan beragam kuliner khas yang unik. Hal ini menjadi peluang besar untuk memperkuat identitas Kota Malang sebagai kota jasa di masa depan.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki, perubahan dari Kota Malang sebagai kota pendidikan menuju kota jasa dinilai sebagai langkah adaptif dalam menghadapi dinamika pertumbuhan dan tantangan perkotaan di masa mendatang. (*)
