Filosofi Asap Dupa dan Cahaya Lilin Eng An Kiong Kota Malang, Jembatan Doa Menuju Terang di Tahun Kuda Api

17 Februari 2026 16:18 17 Feb 2026 16:18

Thumbnail Filosofi Asap Dupa dan Cahaya Lilin Eng An Kiong Kota Malang, Jembatan Doa Menuju Terang di Tahun Kuda Api

Dupa, salah satu simbolisme sakral dalam peribadatan umat Tri Dharma di Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang. (Foto: Lutfia/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Semerbak aroma dupa tercium dari altar Klenteng Eng An Kiong Kota Malang, sejak Selasa, 17 Februari 2026. Dominasi warna merah, pancaran cahaya lilin, dan umat Tri Dharma beribadah khusyuk, menjadi pemandangan indah di klenteng tertua di Kota Malang. 

Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 ini menandai tahun 2577 Konzili, Tahun Kuda Api. Bukan sekadar perayaan, dalam rangkaian dan simbolisme peribadatan tersebut juga menyimpan filosofi mendalam. 

David Kurniawan, Humas Klenteng Eng An Kiong menjelaskan terdapat makna tentang harapan kepada antar sesama manusia maupun kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Ketika beribadah, umat Tri Dharma umumnya menggunakan dupa yang dibakar sebagai sarana ungkapan doa. Asap dupa yang menjulang ke atas diyakini sebagai jembatan dunia manusia dan dunia spiritual. Mengantarkan doa-doa yang terpanjat untuk sampai pada leluhur dan dewa. 

Foto Umat Tri Dharma di Klenteng Eng An Kiong merayakan ibadah untuk meminta kebaikan di Tahun Kuda Api pada Imlek 2026. (Foto: Lutfia/Ketik.com)Umat Tri Dharma di Klenteng Eng An Kiong merayakan ibadah untuk meminta kebaikan di Tahun Kuda Api pada Imlek 2026. (Foto: Lutfia/Ketik.com)

"Dupa itu adalah sebagai bentuk penghormatan. Doa yang disampaikan semoga harapan itu bisa terlaksana," ujarnya, Selasa 17 Februari 2026.

Pada Imlek, pembakaran dupa melampaui ritual peribadatan. Lebih dari itu, merupakan ekspresi rasa hormat, permohonan keselamatan, dan menyimbolkan sebuah harapan baru, di tahun yang baru. 

David juga menjelaskan lilin-lilin yang tersebar di berbagai sudut bukan sekadar ornamen untuk mempercantik klenteng. Lilin yang memiliki beragam ukuran, dari paling kecip hingga berukuran raksasa, seringkali digunakan umat untuk menyalakan dupa. 

"Lilin itu simbol dari penerangan. Kita ini berharap semoga ke depannya jalan kita ini selalu diterangi," lanjutnya. 

Selain pembakaran dupa, beberapa umar juga menggunakan gold foil, atau kertas dengan lapisan fil emas (kim cua) untuk bersembahyang. Gold foil melambangkan unsur Yang, digunakan sebagai sarana penghormatan kepada para Dewa. 

Foto Cahaya lilin yang menjadi simbol penerang, harapan untuk kebaikan di Tahun Kuda Api. (Foto: Lutfia/Ketik.com)Cahaya lilin yang menjadi simbol penerang, harapan untuk kebaikan di Tahun Kuda Api. (Foto: Lutfia/Ketik.com)

"Itu untuk mengirim doa. Harapan supaya kita jalannya ke depan baik-baik. Beda dengan kertas perak (gin cua) itu melambangkan Yin, untuk orang meninggal," jelasnya. 

Permohonan dan panjatan doa untuk diberikan kebaikan dan penerangan jalan ini selaras dengan kenangan kelam selama Tahun Kuda Api sebelumnya. David mengisahkan bahwa pada 1966 yang juga merupakan Tahun Kuda Api atau Bing Wu di Tiongkok terjadi Revolusi Kebudayaan.

Berdasarkan pemberitaan yang beredar di media massa, pada 1966 terjadi pertumpahan darah dan kekacauan di Cina. Pemimpin Komunis, Mao Zedong menjalankan kampanye penumpasan para pesaing dan menyerukan 'pembersihan' masyarakat. Peristiwa mencekam itu berakhir dengan kematian Mao pada 1976.

Di Indonesia sendiri pada tahun 1966 juga terjadi peristiwa besar dan kelam. Peralihan dari Rezim Soekarno menuju Rezim Soeharto ditandai dengan peristiwa berdarah, salah satunya G30S. 

Pasca peristiwa G30S, muncul stigmatisasi, diskriminasi struktural, rasialisme, hingga pembatasan ekspresi budaya dan ruang publik bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. 

Para umat Tri Dharma, saat ini, tak mengharapkan peristiwa kelam tersebut terulang kembali. David menjelaskan, Tahun Kuda Api dimaknai sebagai upaya pemerintah untuk bekerja giat layaknya kuda dengan hasil yang baik pula. 

"Kami berharap di tahun 2026 tidak terjadi suatu fenomena yang seperti itu (kelam). Bing Wu ini kan ada dobel api yang sangat aktif. Kami berharap Indonesia selalu baik-baik saja. Tetapi kita juga sebagai pribadi harus menjaga emosi, tutur kata. Agar di tahun baru ini, masalah sensitif bisa lebih terjaga," tuturnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Klenteng Eng An Kiong Dupa Membakar Dupa Lilin Filosofi Lilin Imlek 2026 Tahun Kuda Api tri dharma Kebaikan Kota Malang