KETIK, SURABAYA – Di kawasan Wonocolo Surabaya, terdapat gerobak nasi goreng yang selalu ramai pembeli, terutama pada malam hari. Namanya cukup mencuri perhatian yaitu Nasi Goreng Gerobak Setan.
Dari nama unik tersebut, tersimpan kisah perjuangan dan kreativitas seorang penjual bernama Rudiansyah Prawira. Rudi, sapaan akrabnya, merupakan warga asli Wonocolo, sebelumnya bekerja di sektor perhotelan.
Namun, pada tahun 2019 ia harus menerima kenyataan pahit ketika dirumahkan akibat pandemi COVID-19. Tidak ingin berlarut dalam keterpurukan, Rudi memutuskan untuk membuka usaha kuliner dengan modal keberanian dan ide yang berbeda dari pedagang nasi goreng pada umumnya.
“Di Wonocolo ini nasi goreng sudah banyak, kalau sama ya susah bersaing. Jadi saya buat yang unik,” ujar Rudi.
Pelanggan yang bernama Acha (kanan), memesan salah satu menu nasi goreng Gerobak Setan yang terletak di Jl. Jemur Wonosari, Wonocolo pada Selasa tanggal 10 Februari 2026. Mahasiswa semester 4 tersebut menyukai nasi goreng Gerobak Setan karena rasanya yang khas rumahan mengingatkan masakan ibunya. (Foto: Kahila/Ketik.com)
Dari situlah lahir konsep nasi goreng dengan nama-nama ekstrem, seperti nasi goreng genderuwo yang berwarna coklat kehitaman, nasi goreng buto ijo dengan warna hijau, hingga nasi goreng janda yang tampil dengan warna pink keunguan.
Setiap menu memiliki racikan saus, bumbu, dan tingkat kepedasan yang berbeda, sehingga tidak hanya unik dari nama, tetapi juga dari cita rasa dan warna. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp13.000 hingga Rp22.000, tergantung pada Tingkat kepedasan yang dipilih.
Meski mengusung nama “gerobak setan”, Rudi tetap menyediakan menu nasi goreng original bagi pembeli yang tidak menyukai pedas. Harga setiap menu pun disesuaikan dengan tingkat kepedasan dan kompleksitas racikannya. Selain nasi goreng, ia juga menjual mie goreng, kwetiau, hingga spaghetti bolognese, yang semakin memperkaya pilihan bagi pelanggan.
Nasi goreng setan dengan cita rasa pedas khas disajikan hangat pada Selasa, 10 Februari 2026 sebagai menu andalan Nasi Goreng Gerobak Setan di kawasan Wonocolo, Surabaya, tepatnya di Jl. Jemur Wonosari. (Foto: Kahila/Ketik.com)
Usaha yang telah berjalan sejak 2019 ini menjadi favorit mahasiswa, khususnya mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Namun, Rudi mengakui bahwa omzetnya bersifat fluktuatif.
“Kalau mahasiswa libur, ya otomatis sepi. Tapi saya tetap jualan di sini, kalau pindah-pindah juga sama saja, di sana juga ada nasi goreng,” tuturnya. Saat ini, Rudi menjalankan usahanya sambil menafkahi keluarga dan dua orang anaknya.
Popularitas Nasi Goreng Gerobak Setan juga diakui para pembelinya. Marischa Nur Hidayah (Acha), mahasiswa semester 4 UINSA yang ngekos di sekitar Wonocolo, mengaku sudah menjadi pelanggan tetap.
“Rasanya beda dari nasi goreng lain, punya ciri khas. Menunya banyak jadi nggak bosen, pedasnya pas, harganya juga cocok buat mahasiswa,” ujarnya.
Acha menambahkan bahwa nasi goreng buatan Rudi memiliki cita rasa rumahan yang mengingatkannya pada masakan sang ibu. “Kayak nasi goreng rumah, jadi bisa ngilangin rasa kangen rumah,” ujarnya. Ia mengaku hampir setiap minggu pasti membeli minimal satu kali.
Hal seupa dirasakan oleh Yulia Syafitri (Lili), mahasiswa S2 semester 1 Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam. Mhasiswi asal Riau ini baru pertama kali mencoba Nasi Goreng Gerobak Setan setelah melihat antrean pembeli yang cukup ramai.
“aku memang suka pedas dan nasi goreng memang makanan favoritku, jadi langsung pesan nasi goreng setan,” ungkapnya. Lili yang ngekos sekitar lima menit dari UINSA mengaku tertarik dengan konsep unik dan keramaian yang menjadi penanda kualitas rasa.
Bagi yang penasaran dan ingin mencicipinya, Nasi Goreng Gerobak Setan dapat dibeli dengan mendatangi lokasi di Jalan Morgorejo Indah. Dari arah tersebut, perhatikan Oxy Laundry Morgorejo yang berada di sisi kiri jalan, lalu belok kiri menuju Jalan Jemur Wonosari Gang Lebar.
Perjalanan dari titik tersebut kurang lebih 1,1 km atau sekitar tiga menit menggunakan sepeda motor. Gerobak Setan berada di sisi kanan pintu masuk menuju Jalan Wonocolo II.
Keunikan menu, rasa yang konsisten, serta kedekatan emosional dengan pembeli menjadikan Nasi Goreng Gerobak Setan Wonocolo bukan sekadar tempat makan.
Tetapi juga ruang nostalgia dan pelarian lapar bagi para mahasiswa. Di balik asap wajan dan nama-nama ekstrem, tersimpan semangat bertahan hidup dan kreativitas yang lahir dari krisis.(*)
