KETIK, BATU – UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) memulai pembangunan Edu Park melalui prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) yang digelar di Kampus 3 UIN Malang, kawasan Tlekung, Kota Batu, Minggu, 8 Februari 2026.
Edu Park ini dirancang sebagai kawasan edukasi berbasis alam yang mengintegrasikan pendidikan, konservasi lingkungan, dan potensi ekonomi.
Groundbreaking Edu Park UIN Malang tersebut dihadiri Menteri Agama RI Nasaruddin Umar beserta jajaran, Rektor UIN Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, serta pimpinan universitas lainnya.
Wakil Rektor I Bidang Akademik UIN Malang, Drs. H. Basri Zain, M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa pembangunan Edu Park memiliki dua tujuan utama, yakni penguatan fungsi pendidikan dan pengembangan potensi finansial kampus secara berkelanjutan.
“Tujuan utamanya ada dua. Pertama, dimensi pendidikan, bahwa pendidikan tidak hanya bersinggungan dengan ilmu pengetahuan semata, tetapi juga dengan alam. Apalagi jika kita bicara biosains, teknik lingkungan, dan bidang keilmuan lainnya,” ujarnya.
Selain sebagai sarana pembelajaran kontekstual, Edu Park juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi kampus sekaligus memperkaya destinasi edukatif di Kota Batu.
“Kedua, ada dampak finansial. Wisatawan yang datang ke Kota Batu tidak hanya menikmati rekreasi konvensional, tetapi juga bisa datang ke UIN Malang, melihat kampus yang berpihak pada alam. Ini kampus yang menyatu dengan nature,” jelasnya.
Ia menegaskan, pengembangan Edu Park tidak akan mengganggu aktivitas akademik di lingkungan kampus. Kawasan tersebut nantinya akan dikelola dengan sistem yang memastikan keterpisahan antara ruang publik dan ruang perkuliahan.
“Rencananya Edu Park ini terbuka untuk umum, tetapi pengelolaannya akan diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu proses perkuliahan dan aktivitas akademik,” katanya.
Terkait konsep dan fasilitas, ia menyebutkan bahwa desain Edu Park masih dalam tahap perencanaan mendalam dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki keahlian di bidang lingkungan dan pengelolaan wisata edukatif.
“Detailnya masih kami rancang. Namanya Edu Park tentu harus ada unsur fun. Apakah nanti berupa jembatan, wahana tertentu, atau konsep lain seperti di Langkawi Malaysia yang memiliki kereta gantung, itu masih kami diskusikan,” ungkapnya.
Menurutnya, perencanaan tersebut tidak hanya mempertimbangkan aspek konservasi dan edukasi, tetapi juga potensi keberlanjutan ekonomi kampus.
“Kami harus berkonsultasi dengan pihak yang memiliki sense terhadap alam sekaligus memahami aspek profit. Tujuannya agar Edu Park ini benar-benar memberikan manfaat pendidikan sekaligus menghasilkan nilai tambah,” pungkasnya. (*)
