KETIK, SURABAYA – Setiap perayaan Eid al-Fitr di Indonesia, hampir semua orang mengucapkan kalimat “Minal Aidin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.” Ucapan ini terdengar di rumah, di masjid, dalam pesan WhatsApp, hingga di berbagai unggahan media sosial. Meski sering diucapkan setiap tahun, tidak sedikit orang yang sebenarnya belum memahami apa makna dan filosofi dari kalimat tersebut.
Secara bahasa, frasa “Minal Aidin wal Faizin” berasal dari bahasa Arab. Kalimat ini secara harfiah dapat dimaknai sebagai “semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dan termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan.” Kata ‘aidin berasal dari kata ‘aada yang berarti kembali, sedangkan faizin berasal dari kata faaza yang berarti menang atau memperoleh keberhasilan.
Makna “kembali” dalam konteks Lebaran sering dipahami sebagai kembalinya manusia pada keadaan suci setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan. Sementara itu, makna “kemenangan” merujuk pada keberhasilan seseorang dalam menahan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki diri selama bulan suci tersebut.
Ulama dan cendekiawan Muslim Indonesia, M. Quraish Shihab, dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an menjelaskan bahwa Idul Fitri tidak hanya sekadar hari perayaan setelah berpuasa, tetapi juga berkaitan dengan kembalinya manusia kepada fitrah atau kesucian. Ia menerangkan bahwa kata fitri berasal dari kata fitrah, yaitu keadaan asli manusia yang suci sebagaimana diciptakan oleh Allah. Dalam penjelasannya, Quraish Shihab menegaskan bahwa kemenangan yang dimaksud dalam Idul Fitri bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan manusia atas dirinya sendiri, terutama dalam mengendalikan hawa nafsu, memperbaiki perilaku, serta meningkatkan ketakwaan selama bulan Ramadan.
Dalam tradisi masyarakat Indonesia, kalimat “Minal Aidin wal Faizin” hampir selalu disandingkan dengan ucapan “mohon maaf lahir dan batin.” Hal ini menunjukkan bahwa Lebaran tidak hanya memiliki dimensi spiritual antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga dimensi sosial dalam hubungan antarsesama. Karena itu, tradisi saling memaafkan, bersalaman, dan bersilaturahmi menjadi bagian penting dari perayaan Idul Fitri.
Menariknya, ungkapan “Minal Aidin wal Faizin” justru lebih populer digunakan di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara. Di banyak negara Arab, ucapan yang lebih umum digunakan saat Idul Fitri adalah “Taqabbalallahu minna wa minkum,” yang berarti “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian.”
Pada akhirnya, filosofi dari kalimat “Minal Aidin wal Faizin” mengingatkan bahwa Lebaran bukan sekadar tentang hidangan khas, pakaian baru, atau liburan bersama keluarga. Lebaran merupakan momentum untuk kembali pada kesucian hati, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan mempertahankan nilai-nilai kebaikan yang telah dilatih selama bulan Ramadan. (*)
