KETIK, BATU – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batu menyiapkan strategi pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan pada 2026, seiring turunnya angka kemiskinan menjadi 2,86 persen pada Maret 2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu, persentase penduduk miskin pada Maret 2025 tercatat sebesar 2,86 persen atau sekitar 6,22 ribu orang, berkurang 370 orang dibandingkan Maret 2024.
BPS Kota Batu dalam rilis data pada 25 September 2025 menjelaskan, penduduk miskin didefinisikan sebagai warga dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.
Pada Maret 2025, garis kemiskinan di Kota Batu tercatat sebesar Rp671.273 per kapita per bulan. Angka ini mengalami kenaikan Rp28.495 atau sekitar 4,41 persen dibandingkan Maret 2024 yang sebesar Rp642.778.
Kepala Dinsos Kota Batu, Lilik Fariha, menyatakan capaian tersebut menjadi pijakan pemerintah daerah untuk memperkuat strategi penurunan kemiskinan pada 2026 dengan mengedepankan program pemberdayaan masyarakat.
“Strategi kami menempatkan bantuan sosial sebagai solusi sementara, sedangkan pemberdayaan menjadi langkah jangka panjang. Bantuan sosial akan terus dievaluasi sambil diiringi program pemberdayaan agar penerima mampu mandiri dan keluar dari garis kemiskinan,” ujar Lilik, pada Senin, 5 Januari 2026.
Ia menjelaskan, penerima bantuan sosial yang memiliki usaha akan mendapatkan pendampingan serta stimulus untuk meningkatkan keterampilan dan kapasitas kewirausahaan.
“Harapannya, usaha mereka dapat berkembang, penghasilan meningkat, dan pada akhirnya tidak lagi bergantung pada bantuan sosial,” katanya.
Selain penurunan angka kemiskinan, BPS juga mencatat perkembangan positif pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Batu tahun 2025.
IPM tercatat sebesar 80,35, meningkat 0,66 poin atau 1,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 79,69. Dalam periode 2022-2025, IPM Kota Batu rata-rata tumbuh sebesar 1,02 persen per tahun.
Peningkatan IPM pada 2025 terjadi di seluruh dimensi pembentuk, meliputi umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak. Pertumbuhan IPM tahun ini juga menunjukkan percepatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada dimensi umur panjang dan hidup sehat, harapan hidup saat lahir penduduk Kota Batu pada 2025 mencapai 75,70 tahun, meningkat 0,34 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Data tersebut bersumber dari hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 (SP2020-LF).
Sementara pada dimensi pengetahuan, Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk usia tujuh tahun meningkat dari 14,58 tahun menjadi 14,59 tahun. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas juga mengalami kenaikan dari 9,87 tahun menjadi 9,95 tahun pada 2025.
Adapun pada dimensi standar hidup layak, rata-rata pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan meningkat sebesar Rp554 ribu atau 3,89 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data tersebut diperoleh dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret.
