KETIK, SITUBONDO – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Hj Zeiniye dan Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah selaku Pengurus IKSAS PUSAT, serta Nawawi Panitia Pemberangkatan, melepas ribuan peserta aktif Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi'iyah (Iksas) dan warga NU serta Santri untuk mengikuti Napak Tilas Isyarah Pendirian NU menuju Kabupaten Bangkalan dan Jombang, Sabtu 3 Januari 2026.
Pelepasan peserta Napak Tilas Isyarah Pendirian NU ini, dilakukan dari halaman parkir Wisata Religi Ponpes Salafiyah Safi'iyah, Sokorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo.
“Pada hari Sabtu dan Minggu, tiga dzurriyah muassis NU sepakat mengadakan napak tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama dari Bangkalan sampai Jombang,” kata Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Hj Zeiniye.
Dengan adanya kirab atau napak tilas ini, sambung Hj Zeiniye, maka diharapkan setiap pengurus NU paham sejarah panjang jamiyah ini. Dan agar menjadi pengingat, para peserta diminta membuat replika Tongkat dan Tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan tersebut.
“Napak tilas ini dibesut tiga dzurriyah muassis NU. Yakni dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan, dzurriyah KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo, dan dzurriyah Pesantren Tebuireng Jombang. Dari dzurriyah Kiai Hasyim Asy’ari, selain Gus Fahmi ada Gus Riza Yusuf,"jelas Hj Zeiniye.
"Dari dzurriyah KHR As’ad Syamsul Arifin Situbondo diwakili KHR Ahmad Azaim Ibrahimy Pengasuh Ponpes Salafiyah Safi’iyah Sukorejo Situbondo,” sambungnya.
Tujuan dari kirab ini, untuk memperingati 100 tahun kelahiran NU 1926–2026. Dan berharap para peserta dan pimpinan NU, mulai dari tingkat cabang, wilayah, hingga PBNU, dapat kembali mengingat bagaimana sulitnya perjuangan para muassis dalam mendirikan NU.
Sementara itu, Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah mengatakan, simbol tongkat dan tasbih memiliki makna penting sebagai pengingat sejarah perjuangan para muassis NU.
Napak Tilas Tongkat dan Tasbih Syaikhona Kholil ini sebagai pengingat perjuangan para muassis NU. Karena para pendiri NU pada jaman dahulu menempuh perjalanan berat, bahkan berjalan kaki dari Bangkalan menuju Tebuireng demi merawat dan memperjuangkan nilai-nilai keulamaan.
Oleh karena itu, lanjut Wabup Situbondo, untuk mengingat perjuangan para muassis berjalan kaki dari Bangkalan ke Tebuireng, maka Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi'iyah, Santri dan Warga Nahlatul Ulama Situbondo diberangkatkan untuk mengikuti Napak Tilas Isyarah Pendirian NU menuju Kabupaten Bangkalan dan Jombang.
Ia menambahkan bahwa simbol tongkat dan tasbih yang akan dikirabkan membawa pesan mendalam agar peserta dan para pengurus benar-benar meneladani keikhlasan, khidmah, dan perjuangan pendiri NU. Dengan tongkat dan tasbih ini, para pengurus harus bersungguh-sungguh berkhidmah dan menjaga NU dengan ikhlas.
“Dalam kirab tersebut, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy dzurriyah dari KHR. As’ad Syamsul Arifin Situbondo akan menerima tongkat dan tasbih dari dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan. Selanjutnya, tongkat dan tasbih tersebut dikirab menuju dzurriyah Pesantren Tebuireng Jombang,” jelas Wabup Situbondo.
Adapun, kata Wabup Situbondo, rute yang akan dilewati Napak tilas ini, Jalan Kaki menuju Pelabuhan Tanjung Kamal dan naik perahu dari Pelabuhan Tanjung Kamal menuju Pelabuhan Tanjung Perak.
Dari Tanjung Perak, lalu naik bus menuju Sunan Ampel dan Salat serta Tahlil di Sunan Ampel. Usai dari Sunan Ampel, para Masyaikh menuju Stasiun Kereta Api Gubeng, sedangkan peserta menuju stasiun kereta api Jombang.
Setelah para Masyaikh tiba di Stasiun Kereta Api Jombang, Napak Tilas dilanjukan dengan berjalan kaki dari Stasiun Kereta Api Jombang menuju Ponpes Tebuireng Jombang, lalu menyerahkan tongkat dan tasbih dan diakhiri dengan tahlil serta doa bersama di Maqbaroh KH Hasyim Asyari.
Kegiatan ini melibatkan warga NU dari berbagai daerah, termasuk Kabupaten Situbondo untuk ikut hadir dalam rangkaian kirab Napak Tilas pada momentum Harlah ke-100 NU tahun 2026 Masehi. (*)
