KETIK, MALANG – Malang tak hanya soal wisata atau kuliner di hari Lebaran. Daerah ini memiliki tradisi yang masih terjaga dan diteruskan hingga saat ini.
Tak hanya berkumpul dengan keluarga, beberapa rangkaian acara saat Lebaran adalah tradisi yang masih turun menurun.
Tradisi-tradisi ini mencerminkan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Malang yang belum banyak diketahui.
Berikut beberapa tradisi saat lebaran di Malang.
Megengan
Tradisi Megengan dilaksanakan oleh masyarakat Malang saat menjelang bulan Ramadan. Tradisi Megengan juga biasa dikenal dengan kenduri atau selametan sebagai bentuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Tradisi Megengan ini dimana warga berkumpul untuk berdoa bersama dan kemudian menikmati hidangan khas, seperti apem yang bersimbol sebagai permohonan maaf dengan harapan mendapatkan keberkahan selama Ramadan.
Prepekan Pasar
Mendekati Lebaran, pasar-pasar tradisional di Malang dipenuhi oleh pengunjung hingga meningkatnya aktivitas yang signifikan. Hal tersebut dikenal dengan istilah Prepekan Pasar.
Dalam hal ini, masyarakat mulai berbondong-bondong untuk pergi ke pasar dan membeli kebutuhan Lebaran, seperti bahan makanan hingga pakaian.
Takbiran Keliling dengan Obor
Dari tahun ke tahun, pastinya perayaan takbir keliling dengan obor sudah bukan hal baru bagi warga Malang. Kegiatan ini diikuti oleh semua kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa.
Dalam perayaan ini, mereka berkeliling kampung dengan membawa obor yang terbuat dari bambu sambil mengumandangkan takbir. Hal ini menciptakan suasana syahdu dan semangat menyambut hari raya Idulfitri.
Kupatan (Lebaran Kupat)
Kegiatan kupatan dilaksanakan seminggu setelah Idulfitri. Tradisi ini adalah dimana masyarakat Malang mulai membuat ketupat dan membagikannya bersama sayur kepada para tetangga.
Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur setelah mampu melakukan ibadah puasa penuh satu bulan. Tradisi Kupatan ini menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi antar tetangga.
Gugur Gunung
Jika berada di Malang, banyak warga yang mulai membersihkan lingkungan hingga makam sebelum Ramadan dan lebaran. Tradisi ini biasa dikenal sebagai Gugur Gunung, di mana kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, termasuk pemakaman umum.
Kegiatan ini memberikan makna bahwa masyarakat Malang bersemangat dalam kebersamaan dan persiapan menyambut hari suci Ramadan maupun Lebaran.
Itu tadi beberapa tradisi di Malang saat menjelang hari raya Idulfitri yang tak hanya menjadi budaya lokal tapi juga bermakna untuk terus mempererat hubungan sosial antarwarga.(*)
