KETIK, PACITAN – Potensi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Pasar Minulyo, Pacitan, tak bisa dihindari selama retribusi parkir masih ditarik manual.
Sistem digital yang dijanjikan untuk menutup celah bocor itu, portal e-Parkir, hingga kini belum bisa direalisasikan.
Tokoh masyarakat sekaligus pengamat kebijakan publik, John Verra Tampubolon, menyarankan penerapan sistem prabayar e-ticket seperti yang diterapkan di RSUD dr. Darsono Pacitan untuk menutup celah kebocoran.
“Kalau tidak mau bocor, ya pakai sistem prabayar. Bisa juga ditambah CCTV di loket dan pengawasan harian yang ketat,” ujarnya, Selasa, 6 Januari 2025.
Ia menduga potensi kebocoran PAD kerap terjadi pada pergantian shift petugas retribusi.
“Penarikan retribusi masih manual dan sistemnya shift. Di situ rawan kompromi saat serah terima antarpetugas,” katanya.
John Verra juga menyinggung retribusi lain di dalam pasar, seperti MCK, yang masih dipungut manual.
“Semua itu harus diawasi ketat kalau PAD (pasar) ingin benar-benar optimal,” ingatnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja (Disdagnaker) Pacitan, Acep Suherman, mengatakan pembangunan portal e-Parkir sejatinya sudah masuk perencanaan sebagai bagian dari pengembangan potensi PAD.
Namun, keterbatasan fiskal membuat program tersebut harus ditunda.
“Portal itu direncanakan tahun 2026. Anggarannya sekitar Rp250 juta untuk portal depan. Tapi saat dibahas dengan TAPD, belum bisa dipenuhi,” ujar Acep.
Menurutnya, pada tahun anggaran berjalan, pembangunan portal belum menjadi prioritas. Pemerintah daerah masih memfokuskan anggaran pada sektor lain seperti infrastruktur jalan.
“Bukan dibatalkan, tapi ditunda. Kalau kondisi fiskal sudah longgar, program ini akan kita proses lagi,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid Pengelolaan Pasar Disdagnaker Pacitan, Bambang Surono, membernarkan retribusi parkir menjadi sektor paling rawan kebocoran karena masih menggunakan sistem manual.
“Kalau saya melihat, yang paling rawan itu parkir. Karena sistemnya masih manual dan sangat memungkinkan dilakukan oleh internal petugas,” ungkap Bambang.
Ia menegaskan, jenis retribusi lain seperti sewa kios, los, dan bidak relatif aman karena sudah tertata dengan baik.
“Kalau sewa kios, los, dan bidak itu aman,” tegasnya.
Terkait realisasi pendapatan, Bambang menyebut target retribusi parkir Pasar Minulyo tahun 2025 ditetapkan sekitar Rp600 juta dan telah tercapai 98 persen.
Saat ini, retribusi parkir khusus roda dua di Pasar Minulyo dipatok Rp1.000 per kendaraan.
“Tidak sampai 100 persen karena jumlah pengunjung pasar menurun. Tahun sebelumnya rata-rata sekitar 500 ribu pengunjung, tahun ini turun sekitar 50 ribu,” jelasnya. (*)
