KETIK, SURABAYA – Sekitar awal tahun 2025, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kabar dugaan persekusi yang dialami band Sukatani. Kelompok musik bergenre punk-rock itu diduga mengalami persekusi setelah mereka tiba-tiba membuka identitasnya dan menyatakan mencabut lagu “Bayar, Bayar, Bayar”.
Seolah tak ingin kehilangan muka, Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo tiba-tiba menawarkan agar dua personel band Sukatani itu mau menjadi Duta Polri. Beruntung, tawaran itu ditolak Sukatani.
Lagu “Bayar, Bayar, Bayar” pun semakin viral, terutama saat marak demonstrasi Indonesia Gelap pada sekitar Februari 2025.
Lagu “Bayar, Bayar, Bayar” seolah menjadi luapan kemarahan dan frustasi publik terhadap kepolisian yang belum juga berbenah.
Namun jika ditilik ke belakang, sebenarnya ada begitu banyak lagu yang diciptkaan musisi Indonesia untuk menyindir atau bahkan mengkritik keras kepolisian yang dinilai belum sepenuhnya bebas dari praktik korupsi, pungli, suap ataupun pemerasan.
Termasuk lagu dari Sukatani Band, berikut ini kami sajikan sembilan lagu terbaik dari musisi Indonesia yang secara terang atau simbolik mengkritik praktik korupsi dan penyimpangan di tubuh kepolisian.
1. Sukatani – “Bayar, Bayar, Bayar”
Lagu ini menjadi ikon kritik kontemporer karena bahasanya yang polos, langsung, dan tanpa metafora. Sukatani tidak sedang berteori—mereka bercerita.
Mau bikin SIM, bayar polisi
Ketilang di jalan, bayar polisi
Touring motor gede, bayar polisi
Angkot mau ngetem, bayar polisi
Pengulangan frasa “bayar” menegaskan satu pesan: hukum digambarkan sebagai transaksi. Lagu ini terasa mengganggu karena terlalu dekat dengan realitas sehari-hari banyak orang.
2. Iwan Fals – “Polisi dan Bajingan”
Jauh sebelum era punk digital, Iwan Fals sudah menjadi simbol perlawanan dan kritik musisi terhadap rezim Orde Baru. Dalam salah satu lagunya, Iwan Fals menempatkan polisi dan penjahat dalam satu tarikan napas—sebuah kritik yang tajam pada zamannya.
Mana polisi mana bajingan
Semua larut lebur dalam permainan
Orang mati karena dibunuh sudah biasa
Lirik ini menggugat moralitas aparat yang seharusnya menjadi pembeda antara hukum dan kejahatan, namun faktanya justru sebaliknya.
3. Seringai – “Lencana”
Seringai memilih pendekatan simbolik. “Lencana” menjadi metafora kekuasaan yang bisa mengubah benar dan salah.
“Di balik lencana, kuasa bicara
Benar dan salah bisa ditukar harga”
Kritik lagu ini tidak hanya soal individu, tetapi soal sistem yang memungkinkan kewenangan diperdagangkan.
4. Morfem – “Pilih Sidang atau Berdamai”
Morfem menangkap praktik hukum yang sangat familiar di ruang-ruang polisi: pilihan antara proses hukum atau “jalan damai”.
“Pilih sidang atau berdamai
Semua bisa selesai hari ini”
Lirik ini menyindir budaya kompromi yang kerap menjadi pintu masuk suap, terutama dalam perkara-perkara kecil yang seharusnya diproses secara adil.
5. The Brandals – “Awas Polizei!”
Dengan nada sinis, The Brandals menggambarkan polisi sebagai sosok yang justru menciptakan ketegangan.
“Datang bukan menolong
Datang bawa urusan”
“Urusan” di sini menjadi kode sosial—sesuatu yang sering kali berujung pada razia bermotif pungli atau intimidasi.
6. Turtles Jr – “ACAB”
Dalam tradisi hardcore punk, kritik disampaikan tanpa basa-basi. Lagu ini merupakan ekspresi kemarahan terhadap institusi yang dianggap sistemik bermasalah.
“Seragam bukan jaminan keadilan
Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atasan”
Nada ekstremnya mencerminkan rasa putus asa terhadap sistem hukum yang tak pernah dirasakan setara.
7. ROTOR – “Pluit Phobia”
ROTOR mengangkat ketakutan simbolik terhadap peluit polisi—suara kecil yang memicu kecemasan besar.
“Peluit berbunyi, dompet pun gemetar”
Lirik ini merangkum pengalaman kolektif tentang razia dan pungutan liar yang telah lama menjadi rahasia umum.
8. Navicula – “Mafia Hukum”
Navicula termasuk band punk-rock yang vokal mengkritik pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ketika lembaga anti rasuah itu masih berada di puncak kejayaannya sebagai lembaga yang paling dipercaya publik.
Melalui lagu “Mafia Hukum”, Navicula mengkritik praktik lancung yang dilakukan tidak hanya oleh polisi, tetapi juga unsur lain dalam sistem penegakam hukum. Seperti jaksa dan hakim.
“Hukum dikuasai mafia
Keadilan dijual bebas”
Polisi dalam lagu ini bukan aktor tunggal, melainkan bagian dari jaringan sistemik yang membuat hukum mudah diperjualbelikan.
9. Doel Sumbang – “Polisi Noban”
Dengan gaya satire khas Sunda, Doel Sumbang menyampaikan kritik lewat humor yang pahit.
“Polisi noban, rakyat mah nahan”
“Noban” (menonton) menjadi sindiran: aparat digambarkan pasif atau justru menikmati situasi, sementara rakyat kecil menanggung akibatnya. Kritik Doel Sumbang terasa ringan di permukaan, namun pedas di makna.
Musik sebagai Ekspresi Protes dan Ketidakpercayaan
Jika dirangkai, lagu-lagu ini membentuk semacam arsip sosial: catatan panjang tentang ketidakpercayaan publik terhadap kepolisian akibat praktik korupsi yang terus berulang. Perbedaan genre dan generasi justru memperkuat pesan bahwa persoalan ini lintas zaman.
Lagu bernada kritik kepada polisi sejatinya sudah populer sejak puluhan tahun lalu di Indonesia. Namun, harapan agar polisi berbenah, justru terasa semakin jauh dalam beberapa waktu terakhir. (*)
