KETIK, SURABAYA – Warung Nasi Goreng Ganas sudah tak asing di kalangan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Warung ini dikenal dengan sajian nasi goreng berbagai level kepedasan yang siap bikin lidah panas. Sensasi pedasnya meresap sempurna dan membuat siapa pun ketagihan untuk kembali mencicipinya.
Di sebuah gang yang cukup dikenal warga lokal, tepatnya di depan Nurul Ummah Rental Motor 24 Jam, Jalan Jemurwonosari Gang Lebar No 145, Wonocolo, Surabaya, tampak seorang pria muda sibuk memasak.
Ia adalah Dika Prakasiwi (33), yang sebelumnya pernah bekerja sebagai juru masak di salah satu restoran menu Indonesia dan dikenal piawai menghadirkan beragam varian masakan.
Lokasinya berada di kawasan yang cukup padat penduduk, yakni di Jemurwonosari Wonocolo Surabaya. Dengan letak penggorengan berada di bagian depan, pria itu menampilkan skill memasak secara terbuka dengan aroma dan asap masakan menyebar ke arah jalanan.
Warung ini buka setiap hari mulai pukul 16.30 hingga 23.30 WIB. Lokasinya yang strategis dan tak jauh dari kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) membuatnya direkomendasikan untuk mahasiswa. Harga per porsi pun ramah di kantong, mulai Rp13.000 hingga Rp17.000.
Beragam menu lain juga tersedia di kedai ini, mulai dari bakmi, kwetiau, bihun, hingga capcay dengan berbagai varian rasa tanpa meninggalkan cita rasa khas kuliner Indonesia. Namun, nasi goreng ganas dan nasi goreng seafood tetap menjadi menu favorit yang paling banyak diburu pembeli.
Saat pertama kali mencoba berjualan sendiri pada 2019, sang penjual sempat menghadirkan nasi goreng Jawa tanpa campuran saus. Cara memasak tersebut justru memicu keluhan, karena tidak semua lidah masyarakat Indonesia bisa menerima nasi goreng tanpa saus.
Terdapat Bakmie spesial, salah satu menu warung Nasgor Ganas. (Foto: Muhammad Roihan/ketik.com)
Setelah ada saran dan masukan dari masyarakat, penjual kembali merubah resep masakannya serta berupaya untuk menciptakan cita rasa yang lebih akrab di lidah masyarakat surabaya. Karena, di Jawa Timur khususnya Surabaya lebih dominan menggunakan saus karena lebih cocok dengan selera masyarakat lokal.
Di sini, pelanggan juga bisa meminta tambahan cabai sesuai selera. Semakin banyak cabai yang ditambahkan, semakin membara pula tingkat kepedasannya. Karena itulah menu ini diberi nama Nasi Goreng Ganas.
Nasgor Ganas adalah salah-satu nasi goreng andalan mahasiswa, karena pelanggan bebas menentukan tingkat kepedasan, harga terjangkau, dan pelayanannya cepat.
Itu pula yang dirasakan Haidar Ali Tubagus, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. “Pelayanannya cepat dan rasanya enak” ujar mahasiswa tersebut.
“Aku tau tuku sing nasgor telur, nasgor ayam, karo kwetiau, menurutku enak enak ae worth it ono kerupuk e, timun, lombok e, dan menu e lengkap harga e terjangkau enak (Saya pernah belinya yang nasgor telur, nasgor ayam, sama kwetiau, menurut saya enak enak saja layak, ada kerupuknya, timun, cabai dan menunya lengkap harganya terjangkau enak),“ terang Wafiul Ahdi, seorang mahasiswa UINSA.
Nasib berjualan memang tak selalu berjalan mulus. Kebaikan hati penjual terkadang justru dimanfaatkan pembeli. Tak jarang, Dika pun kewalahan menghadapinya.
Ia mengaku ada beberapa pelanggan yang komplain karena kehabisan masakannya.
“Iyo mas akeh sing komplain nang ngarep kene mergo ws entek, biasane sing nge chat nang WhatsApp yo gak kewoco mergo akeh pesenane (Iya mas banyak yang komplain didepan sini karena sudah kehabisan, biasanya yang mengrim pesan di WhatsApp juga tidak kebaca karena banyak pesanan),” terang pria 33 tahun itu. (*)
