Mengintip Tradisi Hatsumode, Kunjungan Pertama ke Kuil Saat Tahun Baru di Jepang

1 Januari 2026 10:02 1 Jan 2026 10:02

Thumbnail Mengintip Tradisi Hatsumode, Kunjungan Pertama ke Kuil Saat Tahun Baru di Jepang
Ilustrasi orang berdoa di kuil (Foto: Rakuten Travel)

KETIK, SURABAYA – Saat pergantian tahun di Jepang, salah satu tradisi yang paling penting dan penuh makna adalah hatsumode, yakni kunjungan pertama ke kuil Shinto atau vihara Buddha di awal tahun untuk berdoa dan menyambut saat baru. 

Istilah hatsumode (初詣) secara harfiah berarti ‘kunjungan pertama’. Biasanya dilakukan pada tiga hari pertama tahun baru (1 – 3 Januari), atau bahkan bisa diperpanjang hingga awal minggu pertama Januari.

Hatsumode bukan sekadar ritual ibadah biasa. Bagi banyak orang Jepang, ini adalah momen penting untuk mengucapkan terima kasih atas tahun yang telah berlalu, dan memohon keberuntungan, kesehatan, serta keselamatan di tahun yang baru.

Suasana di kuil selama hatsumode bisa sangat meriah. Banyak orang rela mengantri sejak malam pergantian tahun agar bisa masuk tepat setelah tengah malam, sementara yang lain datang bersama keluarga saat malam pergantian tahun atau hari berikutnya.

Selama musim hatsumode, kuil dan vihara di Jepang biasanya dipenuhi oleh pengunjung. Beberapa tempat ibadah besar, seperti Meiji Jingu di Tokyo, bahkan bisa dikunjungi ribuan hingga jutaan orang dalam periode tahun baru.

Banyak pengunjung datang dengan mengenakan kimono sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi, meskipun tidak sedikit pula yang memilih pakaian musim dingin biasa mengingat suhu yang cukup rendah. 

Hal ini menunjukkan bahwa hatsumode terbuka bagi siapa saja, tanpa aturan berpakaian yang kaku, selama dilakukan dengan sikap sopan dan penuh penghormatan.

Saat hatsumode, orang-orang biasanya akan melakukan hal berikut ini:

  1. Menyucikan tangan dan mulut di tempat yang tersedia (temizuya) sebagai simbol membersihkan diri sebelum berdoa.
  2. Memasukkan koin persembahan ke kotak (saisen) di depan altar. Banyak yang percaya jumlah koin tertentu (misalnya 5 yen) membawa keberuntungan.
  3. Berdoa di hadapan altar, di kuil Shinto biasanya dengan membungkuk dua kali, menepuk tangan dua kali, dan sekali lagi membungkuk, sementara di vihara Buddha orang biasanya berdoa tanpa tepuk tangan. 

Bagian dari tradisi hatsumode juga termasuk:

Omikuji (御神籤)

Kertas ramalan nasib yang bisa menunjukkan keberuntungan atau memberi nasihat simbolis.

Omamori (お守り)

Jimat keberuntungan atau perlindungan yang bisa dibawa untuk keselamatan, kesehatan, atau keberhasilan. 

Ema (絵馬)

Papan kayu kecil tempat orang menulis harapan atau doa mereka, lalu digantung di kuil. 

Biasanya, jimat lama yang dibawa sepanjang tahun sebelumnya dibawa kembali ke kuil untuk dikembalikan atau dibakar secara ritual, sebagai simbol pembersihan dan pembaruan. 

Walaupun disebut ritual religius, hatsumode juga menjadi pengalaman sosial dan budaya. Banyak kuil yang dipenuhi oleh penjual makanan jalanan, stan minuman hangat, serta tempat-tempat berkumpul keluarga dan teman. 

Bagi pengunjung dari luar Jepang, hatsumode memberikan pandangan unik tentang bagaimana masyarakat Jepang menyambut tahun baru dengan sikap reflektif dan penuh harapan, bukan hanya dengan perayaan semata. (*)

Tombol Google News

Tags:

Hatsumode Nataru Tahun baru Tradisi Jepang Kuil Awal tahun new year